Daerah

Dianggap Menghawatirkan, Bendungan Mrica Banjarnegara Harus Segera Ditangani, Berikut Alasannya

1232
×

Dianggap Menghawatirkan, Bendungan Mrica Banjarnegara Harus Segera Ditangani, Berikut Alasannya

Sebarkan artikel ini
Foto Bendungan Merica saat diambil memakai drone, Selasa, 5/5/2026. Foto : (Gunawan/Lensa Nusantara).

Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman, atau yang lebih dikenal sebagai Bendungan Mrica di Kabupaten Banjarnegara, kini berada pada status yang sangat mengkhawatirkan.

Infrastruktur strategis yang sempat dinobatkan sebagai bendungan terpanjang di Asia Tenggara tersebut, saat ini tengah berjuang melawan laju sedimentasi yang kian tak terkendali setiap tahunnya.

Example 300x600

Bendungan yang diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1989, yang dibangun oleh konsorsium SABCON asal Swedia itu awalnya dirancang untuk menopang kebutuhan listrik Jawa-Bali selama 50 tahun, namun, realita yang terjadi di lapangan berkata lain.

Laju sedimentasi yang masif telah memangkas usia produktifnya secara drastis. Area yang dulunya adalah merupakan hamparan air luas, saat ini berubah menjadi daratan, dan seperti berbentuk pulau-pulau sedimen yang menutup hampir seluruh kapasitas tampung bendungan.

Menurut Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Banjarnegara, Junaedi, mengatakan, kondisi bendungan yang saat ini juga sebagai tempat wisata tersebut merupakan masa kritis yang nyata.

BACA JUGA :
‎Kunjungi Warga Kategori Miskin Ekstrim di Banjarnegara, Menteri Sosial: Salah Satu Warga yang dapat Atensi dari Presiden

Menurutnya, berdasarkan studi tahun 2011, sisa umur bendungan diperkirakan hanya tersisa 12 tahun akibat akumulasi lumpur dari lima sungai besar, terutama Sungai Serayu dan Sungai Mrawu.

“Perubahan pola tanam di daerah hulu, seperti kawasan Dieng yang kini didominasi tanaman semusim seperti kentang, menjadi pemicu utama longsoran tanah yang terbawa arus hingga mengendap di dasar bendungan,” jelasnya kepada Media saat ditemui pada Minggu (3/ 5/2026) lalu.

Jika tanpa upaya pengerukan yang signifikan, volume air yang tersisa menjadi sangat terbatas, sementara tekanan dari material sedimen terus membebani struktur tanggul secara konstan.

Potensi kegagalan struktur tanggul menjadi kekhawatiran terbesar pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, jika adanya skenario terburuk yang akan terjadi, dampaknya diprediksi bisa menyapu bagian barat wilayah Banjarnegara bagian barat, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap, tentu hal ini segera di tindak lanjuti, sebelum hal buruk terjadi, terutama tempat tinggal yang memiliki radius satu kilometer dari bibir sungai, akan terdampak utama secara langsung oleh air bah dan material lumpur, dimana ribuan jiwa serta infrastruktur vital di sepanjang aliran Sungai Serayu kini berada dalam bayang-bayang ancaman bencana.

BACA JUGA :
‎Dilantik Menjadi Kasie Pemerintahan Desa Brengkok Banjarnegara, Berikut Pesan Camat ke Anwarudin

Situasi tersebut ternyata selama ini juga mendapatkan sorotan oleh salah satu tokoh masyarakat Banjarnegara Khayatul Makki atau yang akrab disapa Gus Khayat, menurutnya, bahwa situasi yang terjadi di bendungan merica saat ini sudah selayaknya dikategorikan sebagai darurat kemanusiaan.

Beliau mengimbau agar keselamatan nyawa manusia di empat kabupaten menjadi prioritas utama, melampaui pertimbangan bisnis energi semata.

“Sedimentasi sudah begitu luas, bahkan permukaannya terlihat sangat padat. Kita tidak boleh mengabaikan kenyataan di lapangan. Keselamatan warga harus menjadi pertimbangan pertama,” tegas Gus Khayat saat ditemui dirumahnya, Selasa, (5/5/2026).

BACA JUGA :
Dua Desa di Banjarnegara Ditinjau Tim Verifikasi STBM Awards 2023

Selama ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah bergerak cepat secara proaktif dengan mengajukan proposal penanganan darurat kepada pemerintah pusat, dengan skema yang diusulkan adalah penggunaan metode mud section pump atau penyedotan lumpur menggunakan pipa raksasa menuju dumping area seluas 154 hektar yang telah disiapkan di wilayah selatan.

“Metode ini dinilai lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan pengerukan konvensional yang berisiko memacetkan jalan nasional dengan mobilitas ratusan truk setiap harinya, namun, proyek skala besar ini memerlukan dukungan anggaran pusat serta sinergi lintas daerah antar bupati di wilayah terdampak, hingga saat ini, upaya flashing (penggelontoran lumpur) yang pernah dilakukan justru sempat memicu masalah lingkungan di wilayah hilir pada tahun 2023,” imbuh Gus Khayat.

Masih kata Gus Khayat,”Pengerukan menggunakan kapal tongkang dinilai belum sebanding dengan kecepatan input sedimen yang masuk setiap harinya,” pungkas Gus Khayat. (Gunawan).