Semarang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari megahnya jalan, jembatan, atau gedung pemerintahan. Di balik kemajuan fisik, terdapat sosok-sosok yang selama puluhan tahun menjaga nilai-nilai sosial, keagamaan, dan kemanusiaan di tengah masyarakat. Mereka adalah para modin, guru mengaji, guru Madrasah Diniyah, guru Raudhatul Athfal (RA), marbot masjid, hingga para pengajar Al-Qur’an yang bekerja dengan penuh keikhlasan.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, perhatian terhadap para penggerak keagamaan tersebut semakin diperluas. Pemerintah Kota Semarang menambah jumlah penerima bisyaroh secara signifikan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka dalam membina kehidupan spiritual dan menjaga harmoni sosial masyarakat.
Tahun 2026, jumlah penerima bisyaroh meningkat menjadi 9.992 orang, naik tajam dibandingkan tahun 2025 yang tercatat sebanyak 6.572 orang.
Kebijakan ini menjadi salah satu program sosial yang menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat yang selama ini mengabdi tanpa banyak sorotan.
Pengabdian yang Selama Ini Menjadi Pondasi Kehidupan Masyarakat
Dalam banyak lingkungan di Kota Semarang, keberadaan modin, guru mengaji, hingga marbot bukan sekadar pelengkap kehidupan beragama.
Mereka menjadi bagian penting dalam setiap fase kehidupan masyarakat, mulai dari mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, membimbing pendidikan keagamaan, mengurus ibadah di masjid, hingga mendampingi keluarga saat menghadapi musibah kematian.
Karena itu, menurut Agustina, pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan perhatian kepada mereka.
“Kami ingin negara hadir melalui Pemerintah Kota Semarang untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang selama ini mengabdikan diri melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan.
Peran modin, guru mengaji, guru madrasah, marbot, dan seluruh penggerak keagamaan sangat besar dalam menjaga harmoni sosial dan membangun karakter masyarakat. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian,” ujar Agustina, Selasa (7/7/2026).
Jumlah Penerima Bisyaroh Meningkat Signifikan
Perluasan penerima dilakukan hampir di seluruh kelompok penggerak keagamaan.
Di antaranya:
Guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) meningkat dari 3.000 menjadi 4.000 orang.
Guru Madrasah Diniyah (Madin) bertambah dari 1.000 menjadi 1.390 orang.
Petugas Kemakmuran Masjid (Marbot) naik dari 531 menjadi 885 orang, dengan target mencapai 1.000 penerima pada 2027.
Guru Raudhatul Athfal (RA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) untuk pertama kalinya memperoleh bisyaroh sebanyak 320 orang.
Khusus bagi modin, Pemerintah Kota Semarang memberikan bisyaroh sebesar Rp1 juta setiap bulan yang disalurkan setiap tiga bulan sekali.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Agustina saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Paguyuban Pengurus Jenazah Semarang (P2JS)/Modin Kota Semarang periode 2026–2031, sekaligus membuka Pelatihan Pemulasaraan Jenazah bagi modin se-Kota Semarang di Rumah Dinas Wali Kota.
Sebanyak 18 pengurus P2JS resmi dikukuhkan dengan Widodo Lestari, S.Ag. sebagai ketua.
Sementara itu, pelatihan pemulasaraan jenazah dilaksanakan secara bertahap selama dua hari agar seluruh sekitar 1.000 modin di Kota Semarang dapat mengikuti peningkatan kapasitas tersebut.
Semua Modin Ditargetkan Menerima Bisyaroh
Dalam kesempatan itu, Agustina kembali menegaskan komitmennya agar seluruh modin di Kota Semarang mendapatkan perhatian yang sama.
Menurutnya, tugas modin bukan hanya mengurus pemulasaraan jenazah, tetapi juga menjadi pendamping keluarga yang sedang mengalami kehilangan.
“Saya berkomitmen bahwa semua modin harus dapat bisyaroh ini. Mereka menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat mulia, hadir mendampingi warga di saat-saat paling sulit. Pemerintah Kota harus memberikan dukungan dan penghargaan yang layak atas pengabdian tersebut,” tegas Agustina.
Sejarah Kota Semarang menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat selalu bertumpu pada semangat gotong royong dan nilai-nilai religius yang diwariskan sejak masa para ulama dan tokoh masyarakat, termasuk jejak dakwah Ki Ageng Pandanaran (Sunan Pandanaran) sebagai pendiri Kota Semarang.
Dalam perkembangan kota modern saat ini, keberadaan para penggerak keagamaan tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kerukunan, pendidikan karakter, hingga ketahanan sosial masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kota Semarang memandang pembangunan manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik.
Ke depan, cakupan penerima bisyaroh akan terus dievaluasi seiring pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kebutuhan pelayanan keagamaan di tingkat kelurahan.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kota Semarang berharap semakin banyak penggerak keagamaan yang memperoleh dukungan sehingga mereka dapat terus menjalankan pengabdiannya kepada masyarakat dengan lebih baik. (Ryo)














