Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Sejumlah program prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menjadi sorotan dalam Podcast Gus Bupati Menjawab yang disiarkan secara live, Jumat (7/8/2026) malam. Mulai Universal Health Coverage (UHC), Homecare, Bunga Desaku, dana talangan, hingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2027 dibahas secara terbuka.
Podcast tersebut menghadirkan Bupati Jember Muhammad Fawait bersama Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Jember Achmad Imam Fauzi. Keduanya berdialog dengan Direktur PAR Alternatif Lembaga Riset Hukum dan Politik Andi Saputra serta konten kreator Harry ERJE yang menyampaikan sejumlah pertanyaan sekaligus pandangan kritis terhadap kebijakan Pemkab Jember.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah keberlanjutan program UHC dan Homecare. Andi Saputra menilai secara politik, legitimasi Bupati Muhammad Fawait saat ini cukup kuat sehingga berbagai program pemerintah relatif memiliki ruang untuk berjalan.
Namun, menurutnya, legitimasi politik saja belum cukup untuk memastikan sebuah program publik dapat bertahan dalam jangka panjang.
Dia menilai program seperti Homecare memiliki semangat pelayanan universal, terutama dalam menjangkau kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas. Meski demikian, keberlanjutan program tetap harus menjadi perhatian.
“Apakah program ini hanya program populis, tidak ada keberlanjutan dan hanya untuk memantik perhatian publik?” ujar Andi dalam podcast tersebut.
Menurut dia, kebijakan publik tidak hanya dinilai dari efektivitas dan efisiensinya, tetapi juga dari keberlanjutannya. Sebab, sebuah program dapat menghadapi persoalan ketika terjadi perubahan kondisi fiskal pemerintah daerah.
Andi juga menyoroti pentingnya memastikan seluruh jajaran birokrasi memahami dan menjalankan program prioritas kepala daerah secara konsisten. Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan di lapangan yang menunjukkan belum seragamnya pemahaman terhadap program Pemkab Jember.
“Apakah program ini populis atau substantif harus diuji. Kemudian bagaimana pemerintah meyakinkan publik dan bagaimana temboknya Gus untuk menjaga program ini,” katanya.
Menanggapi Podcast tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait Gus Fawait menyebut dirinya justru memilih dengan membuat terobosan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Saya mau ada di zona aman, saya mending sekarang lakukan apa yang ada, tidak susah-susah, yang penting pemerintahan ini berjalan. Kalau niatnya populis, nanti bikin program cetar-cetar menjelang Pileg atau Pilkada,” tegasnya.
Menurut Gus Fawait, keberpihakan kepada masyarakat kecil menjadi alasan utama berbagai program pelayanan publik digulirkan.
“Bagaimana kita harus membela wong cilik, membela orang miskin, membela orang yang termarjinalkan. Di situlah kita merasa terpanggil,” ujarnya.
Dia mengakui setiap kebijakan pasti memunculkan optimisme sekaligus pesimisme. Namun, hal tersebut dinilai sebagai bagian dari dinamika dalam menjalankan pemerintahan.
Gus Fawait kemudian mencontohkan UHC yang pada awal pelaksanaannya juga sempat diragukan sejumlah pihak. Keraguan tersebut justru menjadi pemacu Pemkab Jember untuk terus bekerja dan membuktikan manfaat program kepada masyarakat.
“Selama berpihak kepada kepentingan masyarakat, kita akan melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa keyakinan itu adalah sebuah keyakinan yang benar,” katanya.
Lebih jauh, Gus Fawait menjelaskan Homecare sebagai layanan kesehatan jemput bola yang menyasar masyarakat dengan kondisi tertentu. Program tersebut, menurut dia, tidak sekadar dibuat untuk membangun citra pemerintah, tetapi untuk memperluas akses pelayanan kesehatan.
“Warga tidak mampu punya hak yang sama dengan warga yang mampu. Mereka sama-sama warga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.
Dia menganalogikan, apabila masyarakat mampu dapat memiliki dokter pribadi atau dokter keluarga, maka masyarakat kurang mampu juga harus mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak.
“Kalau keluarga mampu punya dokter pribadi, kenapa kita tidak mengusahakan keluarga yang tidak mampu punya dokter pribadi atau dokter keluarga?” imbuhnya.
Gus Fawait menyebut Homecare untuk tahap awal menyasar beberapa kelompok rentan. Salah satunya adalah lansia tunggal.
Menurut dia, para lansia yang hidup seorang diri merupakan kelompok yang harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Apalagi sebagian dari mereka pernah memberikan kontribusi bagi daerah maupun negara ketika masih produktif.
“Bayangkan mereka yang sudah berkontribusi kepada Republik ini, kepada kabupaten ini di masa mudanya, tapi di masa tuanya mereka harus tinggal sendiri. Apakah mau kita lihat? Di situlah hati yang berbicara,” ungkapnya.
Dia menceritakan pernah menemukan dua lansia yang tinggal bersama dalam satu rumah. Keduanya tidak memiliki anak maupun saudara yang mendampingi.
Melalui Homecare, Pemkab Jember berupaya memastikan kondisi kesehatan lansia tersebut dapat dipantau secara berkala, setidaknya sebulan sekali.
Sasaran berikutnya adalah ibu hamil risiko tinggi, khususnya dari keluarga kurang mampu. Gus Fawait mengatakan kelompok ini membutuhkan perhatian khusus karena tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk mengakses dokter spesialis secara rutin.
Ibu hamil dengan risiko tinggi yang telah diperiksa melalui Puskesmas dan mendapatkan rujukan ke dokter spesialis akan terus dipantau. Pemantauan dilakukan tanpa menghilangkan kewajiban pasien untuk tetap menjalani pemeriksaan di Puskesmas.
Sasaran lainnya adalah penyandang disabilitas dengan penyakit berkepanjangan. Gus Fawait menilai kelompok tersebut juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh perhatian pemerintah.
Selain itu, Homecare menyasar anak stunting. Menurutnya, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi saat ini, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas generasi Jember dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
“Selain mereka punya hak, kita juga punya kewajiban untuk menyiapkan generasi penerus bangsa, generasi Kabupaten Jember 20 tahun yang akan datang,” jelasnya.
Kelompok terakhir yang menjadi sasaran adalah masyarakat kurang mampu dengan penyakit kronis atau berkepanjangan. Mereka yang harus menjalani perawatan rutin, termasuk pasien yang membutuhkan cuci darah secara berkala, menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan pendampingan.
Gus Fawait menegaskan pemerintah harus hadir agar masyarakat dengan keterbatasan ekonomi tidak merasa berjuang sendirian menghadapi penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
“Pemerintah atau negara harus hadir menjaga mereka,” pungkasnya.
Gus Fawait juga menanggapi kritik mengenai konsolidasi aparatur sipil negara (ASN) dalam menjalankan program pemerintah. Menurutnya, seluruh jajaran harus memiliki pemahaman yang sama terhadap program yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Sosialisasi program melalui media sosial juga terus dilakukan. Salah satunya melalui unggahan rutin setiap Jumat,” ungkapnya.
Menurut Gus Fawait, publikasi tersebut bukan semata untuk membangun citra kepala daerah, melainkan untuk memastikan masyarakat mengetahui program pelayanan yang telah disiapkan pemerintah.
“Upload-upload setiap hari Jumat itu untuk mempromosikan dan menyosialisasikan program Pemerintah Kabupaten Jember,” pungkasnya.








