Buku Kumpulan Puisi Bilingual, Karya Halimah Munawir Launching Secara Virtual

  • Bagikan
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah SMSI-MURI-C-1.png

Bogor, LENSANUSANTARA.CO.ID – Buku Bayang Firdaus, kumpulan puisi bilingual karya Halimah Munawir,  pada pekan literasi dilaunching  secara virtual oleh penerbit Diomedia.

Karya-karya Halimah berupa puisi, cerpen, novel, adalah  satu kesatuan yang tak terpisahkan. Semua lahir dari sebuah imajinasi atas  pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, dan keyakinan. Yang membedakan adalah hiasan dan untaian kata serta panjang pendeknya kalimat murni dari sebuah kemerdekaan jiwa penulisnya. Namun genre baru pada dunia sastra yakni puisi esai yang di lahirkan oleh sahabatnya Denny JA, disanalah ada sedikit perbedaan, puisi esai sedikit berbau ilmiah.

“Disana  ada catatan kaki sebagaimana yang terdapat pada buku-buku ilmiah dan mengajak pembacanya untuk lebih kreatif dalam mendalaminya dengan dapat membuka link pada catatan kaki. Adanya pro dan kontra, itu sah sah saja. Saya melihat dari sisi positifnya,  pembeharuan yang mencerahkan dunia sastra,” terang Halimah.

Lebih jauh sastrawan ini menjelaskan, imajinasi tinggi dari seorang  intelektual yang memiliki segudang pengalaman, perlu kita hargai. Ibarat buah yang jatuh, dia tidak jauh dari pohonnya. Begitupun dengan puisi esai yang di lahirkan Deny JA, mencirikan sang pelahir.

BACA JUGA :  Peresmian Masjid AL-Hijrah, Bupati Freddy Thie Akan Membatu Karawawi Menjadi Kampung Persiapan 2022

Awal mula Halimah Munawir  menulis puisi, sewaktu berseragam putih abu abu, di atas buku diary. Jika di untai dalam kata puisi seperti ini:

Hiruk pikuk, heroik dunia pada putaran waktu

Mengajakku bercengkerama dengan kata yang mengisi ruang kepala.

Jelang redup mata oleh panggilan malam

Dan tubuh letih rebah di pulau kapuk

tangan menari di atas diary

Saat hembusan angin pagi berbisik,

Mata terbuka

Kubuka diary, tumpah ruah imajinasi

Penapun menjahit dan merangkai kata

Denting melodi cinta , terdengar sangat jelas dari bait demi bait.

Kira-kira seperti itu Halimah Munawir memulai meraba, mencium dan bercengkerama dengan sastra. Seiring waktu berjalan, sambil kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, Halimah Munawir bergelut di dunia jurnalis sebagai kuli tinta, bertemu dengan berbagai kalangan, yang konon  ruang dalam kepala  semakin semarak dengan imajinasi. Bukan hanya bait demi bait yang tertuang dalam diary lalu memajangnya di majalah dinding sekolah.

BACA JUGA :  Difitnah Suplai Dana Aksi di PT. Langgam Harmoni, Henni PS Akan Menempuh Jalur Hukum

Tepatnya sewaktu  berkerja di Harian Indonesia, dipercaya untuk mengisi  kolom Pengusaha Pengusaha Sukses,  30 tahun yang lalu,  lalu bertemu dengan dua tokoh perempuan yang menjadikan jamu sebagai racikan turun temurun yang kini mendunia, yakni BRA. Moeryati Soedibyo dan DR. Martha Tilar.

“Imajinasi saya terus bergumul dalam kepala jiwa sastra memanggil,  dan jadilah  cerpen perdana berjudul JAMU, di terbitkan di Harian Indonesia,” kata Halimah.

Pada tahun 2000-an, sedikit novel yang mengupas seputar budaya. Pada saat itu yang popular dan fenomenal diantaranya adalah novel Harry Potter, Laskar Pelangi , Negeri 5 Menara, dan ada juga yang mengangkat tentang Vanpir yang laku di pasar dan masuk layar lebar. Namun  di tahun 2011 sebagai awal Halimah Munawir  menulis novel, justrul mengambil tema dan cerita  yang tidak popular yakni The Sinden. Mungkin karena panggilan jiwa seorang yang cinta budaya. Akunya, tak dapat di pungkiri dalam memulai untuk di terbitkan sebenarnya diliputi keraguan. Namun atas dorongan  sahabat Jonminofri, keraguan itu sirna apalagi waktu lolos kurasi penerbit besar Gramedia. Walau tidak masuk novel yang fenomenal,  The Sinden ternyata dijadikan referensi skripsi  dan pergelaran teater. Namun tak sedikit juga yang mencela. Namun hal itu bagi Halimah Munawir adalah wajar.

BACA JUGA :  Gedung Sekolah SDN 01 Talang Mangga Sangat Memprihatinkan, Dana Bos yang Dikucurkan Tidak Jelas Sasarannya

“Pro kontra pasti ada. Sebuah karya mengutamakan kebebasan bathin  penulis, bukan kesenangan orang lain. Karena novel dapat diibarat kita akan  menjahit baju untuk kita pakai. Diawali memilih bahan lalu berimajinasi tentang model, membuat pola dan menggunting serta menjahitnya. Ketika di pakai tentu akan mengundang banyak presepsi yang berbeda satu sama lain. Disini saya menekankan bahwa jangan takut untuk memulai menerbitkan karya sastra (Moel)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan