Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Literasi dan numerasi bukan lagi sekadar kemampuan mengeja atau berhitung dasar. Melainkan kompetensi hidup (life skills) yang menjadi penentu kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Menyadari hal tersebut, SMA Negeri Tamanan Bondowoso mengambil langkah proaktif dengan menggelar Workshop “Peningkatan Kompetensi Guru: Memperkuat Literasi dan Numerasi” pada Senin-Selasa (13-14/04/2026).
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi dan pengembangan diri bagi para pendidik untuk menyelaraskan metode pengajaran dengan standar kompetensi global. Acara diikuti oleh sekitar 30 guru SMA Tamanan di Aula utama sekolah.
Dalam sesi pembukaan, Kepala SMAN Tamanan, Heri Setyohadi, S.Pd., M.Pd., memberikan perspektif penting mengenai reposisi peran guru di era banjir informasi. Beliau menekankan bahwa penguatan literasi dan numerasi adalah tugas kolektif, bukan hanya beban guru mata pelajaran tertentu.
“Kita harus menghapus sekat pemikiran bahwa numerasi hanya urusan guru Matematika atau literasi hanya tugas guru Bahasa. Setiap guru adalah jembatan bagi siswa untuk memahami dunia. Workshop ini adalah investasi intelektual kita agar mampu menyajikan materi yang menantang nalar, bukan sekadar memindahkan isi buku teks ke buku catatan siswa.”, ungkap Kak Heri yang juga merupakan aktivis gerakan pramuka kwarcab Bondowoso.
Kegiatan ini menghadirkan Mohammad Hairul, S.Pd., M.Pd., seorang Fasilitator Nasional pembelajaran terintegrasi literasi-numerasi, yang memandu para guru melalui empat tahapan transformasi kompetensi: penyegaran konsep literasi-numerasi, integrasi literasi-numerasi dalam pembelajaran, penguatan budaya literasi-numerasi di sekolah, hingga perancangan asesmen berbasis literasi-numerasi.
“Jangan memaksakan konten literasi-numerasi secara tempelan. Integrasi yang baik terjadi ketika aktivitas belajar mampu memicu siswa untuk menganalisis sebab-akibat atau memprediksi data berdasarkan pola yang mereka temukan dalam materi pelajaran.”, ungkap Hairul yang juga merupakan Kandidat Doktor di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Hairul juga menambahkan bahwa lingkungan fisik sekolah harus kaya sumber literasi-numerasi. Sudut baca yang nyaman, infografis di koridor, hingga pemanfaatan data di taman sekolah adalah beberapa cara dalam merancang ekosistem yang menstimulasi rasa ingin tahu siswa secara alami.
Agenda hari kedua workshop ini berupa sesi presentasi mandiri, di mana setiap kelompok mata pelajaran memaparkan draf rencana aksi yang akan segera diimplementasikan di ruang-ruang kelas.
Harapannya melalui semangat kolaboratif yang terbangun selama dua hari ini menjadi sinyal positif bagi transformasi akademik di lingkungan SMAN Tamanan.














