Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Jember memaknai peringatan Hari Kartini melalui kegiatan bertajuk “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini” yang digelar di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua TP-PKK Kabupaten Jember Gytha Eka Puspita, jajaran camat, organisasi perangkat daerah (OPD), TP-PKK kecamatan, serta kepala sekolah.
Ketua TP-PKK Jember, Ghyta Eka Puspita, menyebut, Jember merupakan wilayah terbesar ketiga di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga.
“Secara geografis, Jember lengkap, memiliki wilayah pantai di selatan dan pegunungan di utara seperti Gunung Argopuro. Dari sisi pendidikan, terdapat sekitar 31 perguruan tinggi negeri dan swasta, jumlah SMK terbanyak, serta pondok pesantren terbanyak di Jawa Timur,” ujarnya.
Namun di balik potensi tersebut, Jember masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, mulai dari angka kemiskinan, stunting, hingga tingginya angka kematian ibu dan bayi. Selain itu, tingkat literasi yang rendah dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih berada di peringkat 35 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur turut menjadi perhatian.
“Pertanyaannya, dengan banyaknya lembaga pendidikan dan pondok pesantren, mengapa berbagai persoalan ini masih terjadi? Menurut saya, akar masalahnya ada pada keluarga,” kata Gytha.
Ia menegaskan, seluruh orang tua pada dasarnya mencintai anaknya. Namun, pola pengasuhan yang tepat menjadi kunci agar cinta tersebut dapat berdampak positif terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam mencegah pernikahan dini.
Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin mendorong praktik pengasuhan yang lebih baik di tengah masyarakat yang beragam secara budaya. Menurut Gytha, keberagaman suku di Jember seperti Jawa, Madura, dan lainnya seharusnya menjadi kekuatan.
“Pendidikan memang berdampak jangka panjang. Tapi untuk jangka pendek, pemerintah juga melakukan berbagai intervensi, seperti program pengentasan kemiskinan, layanan kesehatan gratis melalui Universal Health Coverage (UHC), serta program beasiswa,” jelasnya.
Program beasiswa tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat menekan angka pernikahan dini dengan mendorong generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Harapannya, anak-anak tidak buru-buru menikah, tetapi bisa kuliah terlebih dahulu. Namun yang paling penting tetap dimulai dari keluarga,” tuturnya.
Sementara, Akademisi Najelaa Shihab, menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak. Pemenuhan kebutuhan kasih sayang di rumah menjadi faktor penting dalam mencegah anak mencari perhatian di luar, yang berpotensi berujung pada pernikahan dini,” jelasnya.
“Peran orang tua, kata Najelaa terutama ayah, sangat penting dalam membangun rasa aman bagi anak, khususnya anak perempuan,” paparanya.














