Pemerintahan

Gotong Royong yang Menjaga Malang Tetap Tumbuh

1445
×

Gotong Royong yang Menjaga Malang Tetap Tumbuh

Sebarkan artikel ini
Bupati Malang bersama Forkopimda saat menghadiri peringatan BBGRM XXIII Kabupaten Malang di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon. (Ryo Lensanusantara.co.id)

Malang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pagi di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Selasa (19/5), terasa berbeda. Udara pegunungan yang sejuk berpadu dengan semangat kebersamaan ratusan warga, perangkat desa, hingga pejabat daerah yang berkumpul dalam peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-23 Kabupaten Malang.

Di tengah suasana sederhana khas pedesaan, satu pesan besar kembali digaungkan, kemajuan daerah tidak lahir dari kerja satu orang, melainkan dari kekuatan gotong royong.

Example 300x600

Bupati Malang M. Sanusi hadir bersama Ketua TP PKK Kabupaten Malang Anis Zaida Sanusi, jajaran Forkopimda, perangkat daerah, hingga para kepala desa. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi simbol bahwa pembangunan Kabupaten Malang dibangun di atas semangat kolaborasi.

BACA JUGA :
Gerebek Kos di Ngajum, Polres Malang Bongkar Jaringan Pengedar Sabu

Mengusung tema penguatan kemandirian desa menuju Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara, kegiatan BBGRM tahun ini seolah menjadi refleksi perjalanan panjang Kabupaten Malang dalam membangun daerah dari desa.

Di hadapan peserta yang memadati lokasi kegiatan, Bupati Malang menegaskan bahwa pemerintahannya tidak berjalan dengan pola kepemimpinan tunggal. Menurutnya, keberhasilan pembangunan di Kabupaten Malang lahir karena adanya kerja sama antara pemerintah daerah, kepala desa, organisasi masyarakat, hingga warga yang saling mendukung.

“Di Kabupaten Malang tidak ada single power atau kepemimpinan tunggal. Yang kami jalankan adalah kepemimpinan kolaboratif,” tegasnya.

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Malang memang menunjukkan perubahan signifikan di berbagai sektor. Dari persoalan stunting yang berhasil ditekan drastis, turunnya angka dispensasi pernikahan dini, hingga meningkatnya kualitas pendidikan yang kini mulai diperhitungkan di tingkat nasional.

BACA JUGA :
Niken Salindry Live di Ngajum, Hari Jadi ke-149 Penuh Rasa, Cerita, dan Budaya

Bahkan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang disebut mencapai 5,92 persen, menjadikannya salah satu daerah dengan perkembangan cukup pesat di Jawa Timur. Masuknya investasi asing, pembangunan rumah sakit internasional, hingga perluasan kampus besar menjadi tanda bahwa daerah ini semakin dipercaya sebagai wilayah strategis untuk berkembang.

Namun di balik angka-angka capaian tersebut, ada kekuatan sosial yang selama ini terus hidup di tengah masyarakat Malang, budaya gotong royong.

Di desa-desa, budaya itu masih terasa nyata. Warga saling membantu membangun jalan lingkungan, membersihkan fasilitas umum, hingga mendukung program sosial dan pendidikan. Pemerintah daerah meyakini, semangat kebersamaan inilah yang menjadi pondasi utama keberhasilan pembangunan.

BACA JUGA :
Koperasi Merah Putih, Harapan Ekonomi Desa: Wamendagri dan Bupati Malang Tinjau Langsung Potensi Desa Randugading

Tak heran jika dalam sambutannya, Bupati Malang menyebut gotong royong sebagai energi besar yang menjaga daerah tetap kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.

Peringatan BBGRM XXIII kemudian ditutup dengan pemukulan kentongan sebagai simbol dimulainya gerakan gotong royong masyarakat Kabupaten Malang Tahun 2026. Suara kentongan yang menggema di Desa Ngabab seakan menjadi penanda bahwa di tengah modernisasi dan perkembangan zaman, semangat kebersamaan tetap menjadi identitas utama masyarakat Malang.

Sebab bagi Kabupaten Malang, membangun daerah bukan hanya soal infrastruktur dan investasi. Lebih dari itu, pembangunan adalah tentang menjaga persatuan, merawat kebersamaan, dan memastikan setiap desa tumbuh bersama menuju masa depan yang lebih kuat. (Ryo)

Tag:
Penulis: HariyoEditor: Mulyono