Malang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Dunia sastra pesantren kembali memikat perhatian kalangan akademisi melalui sebuah kajian yang tak biasa. Sunita Diah Putri, peneliti muda dari program Magister Fakultas Sastra UM, memilih Novel Bersampul Batik karya Mohammad Hairul sebagai objek kajian mendalam.
Lewat kacamata Psikokritisisme, Putri menemukan bahwa novel ini bukan sekadar kisah cinta biasa, melainkan sebuah panduan tentang “seni mencintai dalam luka” dan bagaimana manusia mempertahankan kewarasannya di tengah himpitan takdir.
Salah satu temuan paling menyentuh dalam riset Putri adalah filosofi di balik sampul batik. Bagi tokoh Aida, menyampul buku dengan kain batik bukan sekadar hobi estetis. “Dalam psikologi, ini disebut Sublimasi,” jelas Putri.
“Aida mengalami represi atau tekanan luar biasa karena cintanya dipatahkan oleh tradisi. Alih-alih hancur, ia mengubah rasa sakit itu menjadi energi kreatif. Batik itu adalah ‘perban indah’ untuk menutupi eksistensi dirinya yang koyak. Ia patuh di luar, tapi tetap merdeka di dalam lewat tulisan dan kreativitas.”
Tak hanya Aida, tokoh Mahiru Khair juga menjadi sorotan. Putri melihat Mahiru sebagai representasi intelektual yang mencari kesembuhan melalui diksi. Ketika realitas tak lagi berpihak padanya, Mahiru menjadikan naskah novel sebagai “ruang isolasi” untuk tetap bertahan hidup.
Tulisan bagi Mahiru adalah upaya abadi untuk mengikat kenangan agar tidak hilang ditelan waktu.
Melalui riset ini, Putri ingin menyampaikan pesan yang kuat bagi para pembaca, khususnya sesama perempuan. Ia menegaskan bahwa kekuatan seseorang tidak selalu harus ditunjukkan dengan pemberontakan fisik yang destruktif.
“Sering kali perempuan dianggap lemah saat mereka diam menghadapi tradisi. Lewat novel ini, saya ingin menunjukkan bahwa di balik diam itu ada perjuangan psikologis yang hebat. Diam adalah strategi untuk menjaga benteng terakhir identitas diri,” pungkasnya.
Kajian ini membuktikan bahwa karya sastra adalah “laboratorium psikologi” yang jujur. Novel Bersampul Batik bukan hanya bacaan penghibur, tapi merupakan cermin bagi siapa saja yang sedang belajar mencintai dan merawat luka dengan cara yang paling elegan.














