Berita

Kirab Merah Putih PNIB Di Jombang: Gema Kemerdekaan, Sambut Muktamar NU Ke-35 & Solidaritas Untuk Flores NTT

0
×

Kirab Merah Putih PNIB Di Jombang: Gema Kemerdekaan, Sambut Muktamar NU Ke-35 & Solidaritas Untuk Flores NTT

Sebarkan artikel ini
Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu ( PNIB ) Melaksanakan Kirab Merah Putih Mulai Ringin Contong Jalan Wahid Hasyim Menuju Alun-alun Jombang.

Jombang, LENSANUSANTARA.CO.ID – Ratusan meter kain Merah Putih berkibar di langit Kota Santri. Pekik takbir dan yel-yel kebangsaan menggema sepanjang 4 kilometer. Itulah suasana Kirab Merah Putih yang digelar Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) pada Minggu pagi, 16 Agustus 2026.

Aksi kebangsaan yang digelar di Kota Jombang ini bukan sekadar pawai biasa. PNIB menjadikan kirab sebagai ruang peringatan Hari Kemerdekaan ke-81, penyambutan Muktamar NU Ke-35, sekaligus bentuk solidaritas untuk saudara-saudara di Flores, Nusa Tenggara Timur yang baru saja diguncang gempa bumi.

Example 300x600

Kirab dimulai tepat pukul 07.00 WIB dari Monumen Ringin Contong dan berakhir di Alun-alun Jombang. Sepanjang rute, ratusan peserta berjalan perlahan sambil mengusung kain bendera Merah Putih sepanjang 300 meter.

Pesertanya pun lintas komunitas. Tampak hadir anggota ormas PNIB, para santri, pendekar Pagar Nusa, Padepokan Lingpasraga, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama’ (BEM PTNU) Jawa Timur, hingga warga masyarakat Jombang yang antusias menyaksikan.

Di sepanjang jalan, warga bertepuk tangan dan mengabadikan momen. Bagi mereka, kirab ini menjadi tontonan langka yang mengingatkan kembali arti persatuan.

BACA JUGA :
Solusi Damai Terwujud! Proyek KDMP Mojongapit Dialihkan, Sekolah Bernapas Lega

Ketua Umum PNIB sekaligus penggagas acara, AR Waluyo Wasis Nugroho atau akrab disapa Gus Wal, menjelaskan ada tiga pesan utama dalam kirab kali ini.

Pertama, memperingati hari sakral Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kedua, menyambut Muktamar NU Ke-35 yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.
Ketiga, bentuk empati untuk Flores NTT.

“Peran pemuda dan santri sangat krusial bagi bangsa dan negara di masa lalu, kini dan masa depan. Kirab ini juga merupakan bentuk solidaritas, empati dan simpati untuk saudara-saudara kita di Flores, Nusa Tenggara Timur yang Sabtu kemarin mengalami musibah gempa bumi. Duka Flores NTT adalah duka kami dan duka seluruh Indonesia,” tegas Gus Wal kepada awak media usai kirab.

Lebih jauh, Gus Wal mengingatkan pentingnya dua jargon sejarah: JASMERAH dan JASHIJAU.
“JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Dan JAS HIJAU, Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama. Ini pengingat pentingnya peran para pendahulu dan pendiri bangsa. Generasi sekarang jika tidak sering diingatkan akan melupakannya, bahkan bisa meyakini sejarah lain akibat ideologi sesat. Ini spirit utama kirab kali ini. Bukan sekadar gebyar ramai saja,” imbuhnya.

BACA JUGA :
Polres Jombang Gagalkan Aksi Tawuran, Amankan Pemuda Bawa Senjata Tajam dan Bom Bondet

Dalam kesempatan itu, Gus Wal juga menyuarakan kewaspadaan terhadap ancaman yang dinilainya dapat merusak persatuan bangsa.

“Intoleransi adalah ibu kandung dari aksi radikalisme, anarkisme, terorisme dan premanisme. Semua merupakan musuh rakyat yang tidak terlihat namun nyata terjadi. Ancaman disintegrasi bangsa muncul dari perilaku tersebut yang dibiarkan tumbuh subur. Itulah bahaya laten yang ada tidak jauh dari sendi-sendi kehidupan kita. Kita jangan pernah takut, kita harus melawan mereka, segelintir para provokator,” ujarnya lantang.

Ia menegaskan Jombang dan Jawa Timur harus terus kondusif dengan budaya saling jaga. Menurutnya, momentum Muktamar NU nanti harus menjadi ajang pembuktian kerukunan Nahdliyin.

“Mari dukung dan sukseskan Muktamar NU Ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dengan semangat khidmat kepada para kyai, dengan ceria, senang gembira,” terang Gus Wal.

Gus Wal juga mengajak peserta merenungkan kembali sejarah. Ia menyebut pemuda adalah motor Proklamasi 1945, saat golongan muda mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.

BACA JUGA :
DPRD Kota Malang Kunker ke Jombang, Ini yang Dibahas

Sementara itu, peran santri tak kalah heroik. Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari menjadi pemantik perlawanan 10 November di Surabaya.

“Peran santri mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung itu luar biasa. Itu bukti nyata bahwa santri dan pemuda adalah tulang punggung bangsa,” paparnya.

Menutup pernyataannya, PNIB melalui Gus Wal mendesak negara agar menjadikan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai dasar negara dan pilar kebangsaan.

“Momentum 81 Tahun Kemerdekaan ini semoga menjadi pengingat agar Negara, Bangsa dan Rakyat Indonesia Merdeka 100%. 100% Merah Putih. Merdeka dari Korupsi, Intoleransi, Terorisme, Khilafah, Radikalisme, Anarkisme, Premanisme. Merdeka 100%, Merah Putih 100%, bukan setengah-setengah,” pungkas Gus Wal.

Kirab ditutup dengan doa bersama di Alun-alun Jombang. Bendera Merah Putih 300 meter itu kemudian dibentangkan sebagai simbol bahwa semangat kemerdekaan, persatuan, dan kepedulian harus terus dijaga oleh seluruh anak bangsa.

Tag:
Penulis: TimEditor: Redaksi