Opini

Pionir Ekspor Rokok Madura

1246
×

Pionir Ekspor Rokok Madura

Sebarkan artikel ini

Opini oleh HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy

Example 300x600

Di tengah riuh industri hasil tembakau nasional, terselip sebuah kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan jejaring lintas daerah yang tumbuh dari Pulau Madura. Seorang pengusaha rokok yang memilih tetap berada di balik layar disebut sebagai pelopor ekspor rokok Madura ke pasar Asia dan Eropa secara legal dan hingga kini masih menjadi satu-satunya yang konsisten menembus pasar luar negeri melalui jalur resmi.

Pertemuan saya dengan sosok tersebut bermula dari sebuah perkenalan yang difasilitasi oleh pejabat Bea Cukai. Kala itu, seorang calon eksportir mengaku tengah mencari pemahaman mendasar terkait prosedur, regulasi, dan tata kelola ekspor rokok yang sesuai ketentuan hukum.

Calon eksportir tersebut kemudian diperkenalkan kepada pengusaha dimaksud sebagai figur yang telah lebih dulu menapaki jalur ekspor rokok legal. Pengalaman teknis dan administratif yang dimilikinya menjadikannya rujukan penting, terutama bagi pelaku usaha yang ingin melangkah ke pasar internasional.

Pengusaha rokok tersebut berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ia beristrikan warga Sumenep dan kini bermukim di Pamekasan. Basis produksi rokok yang dikelolanya tersebar di Sumenep dan Pamekasan, dua wilayah yang dikenal sebagai sentra industri rokok skala kecil dan menengah di Madura.

Dalam pertemuan yang berlangsung hingga larut malam di kediamannya di Pamekasan, diskusi mengalir dari hulu ke hilir. Topik pembahasan mencakup karakteristik tembakau Madura, racikan saus rokok, pengelolaan pabrik, hingga mekanisme ekspor yang memenuhi ketentuan perundang-undangan dan regulasi kepabeanan.

Percakapan tersebut berakhir sekitar pukul 23.55 WIB. Meski tuan rumah tampak lelah, ia tetap melayani dialog dengan hangat, seolah enggan memutus pembahasan yang terus berkembang.

“Industri rokok Madura sesungguhnya memiliki potensi besar. Namun, tidak banyak pabrik yang mampu menembus pasar nasional, apalagi pasar ekspor,” ujar pengusaha tersebut dalam perbincangan malam itu.

Salah satu merek rokok yang telah beredar di pasar domestik sekaligus diekspor adalah EXODUS. Produk ini menjadi representasi upaya membawa identitas lokal Madura ke panggung internasional, dengan tetap mematuhi standar legalitas, kepabeanan, dan regulasi lintas negara.

Dalam diskusi yang sama, sang mitra dialog menyampaikan ambisinya untuk menjadi pengusaha rokok terbesar di Asia, tidak hanya di Indonesia. Pernyataan tersebut disambut dengan penjelasan realistis mengenai tantangan industri rokok, mulai dari persaingan global, standar mutu produk, hingga kompleksitas distribusi internasional.

Menariknya, calon eksportir itu mengungkapkan telah memiliki jaringan pasar rokok yang eksis di sembilan negara Asia. Fakta tersebut disebut mengejutkan sang pelopor ekspor rokok Madura, sekaligus menjadi titik awal terbangunnya kesepahaman bisnis di antara keduanya. Pada pertemuan itu, keduanya sepakat untuk menjajaki kerja sama strategis.

Meski kiprahnya signifikan, pengusaha rokok tersebut memilih untuk tidak mempublikasikan namanya. Permintaan itu disampaikan saat sesi dokumentasi usai pertemuan. Alasannya sederhana: fokus pada kerja dan hasil, bukan pada sorotan publik.

Kisah ini menegaskan bahwa di balik geliat industri hasil tembakau nasional, terdapat pelaku-pelaku usaha daerah yang bekerja dalam senyap. Dari Madura, mereka merintis jalur ekspor legal menuju pasar global, membuktikan bahwa produk lokal, dengan ketekunan dan kepatuhan hukum, mampu berdiri sejajar di tingkat internasional.