Grobogan, LENSANUSANTARA.CO.ID – Tradisi kupatan yang dilaksanakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 7 atau 8 Syawal, kembali digelar oleh warga RT 03 RW 01 Dusun Krajan, Desa Papanrejo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, pada Sabtu pagi, 28 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung khidmat dengan diisi doa bersama serta makan bersama hidangan khas kupatan seperti ketupat dan lepet di lingkungan setempat.
Sejak pagi hari, para warga tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Mereka membawa aneka hidangan dari rumah masing-masing untuk kemudian dinikmati bersama. Selain menjadi bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, tradisi kupatan juga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial antar warga.
Acara tersebut turut dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Grobogan dari Partai NasDem, H. Sholikin, yang secara resmi membuka kegiatan. Kehadirannya disambut hangat oleh warga dan menambah semarak suasana yang penuh keakraban. Dalam keterangannya kepada awak media, H. Sholikin menyampaikan bahwa tradisi kupatan memiliki peran penting dalam menjaga ikatan emosional masyarakat, khususnya bagi para perantau yang kembali ke kampung halaman saat momen Idul Fitri.
“Tradisi kupatan itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab mudik, karena rasa kangen kampung halaman yang sangat besar serta nuansa keakraban yang kental antar sesama warga,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa tradisi ini juga menjadi sarana efektif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat. Menurutnya, interaksi langsung seperti makan bersama dan doa bersama mampu menciptakan suasana harmonis yang sulit tergantikan oleh aktivitas lain.
“Saya berharap tradisi ini selalu ada dan digelar setiap tahun. Karena tradisi ini juga merupakan bentuk nyata tentang kuatnya rasa persaudaraan antar warga dan tetap menjaga silaturahmi yang baik,” tambahnya.
Sejumlah warga yang hadir mengaku senang dengan terselenggaranya kegiatan tersebut. Mereka menilai kupatan menjadi ajang untuk saling bermaafan, mempererat hubungan, serta menjaga komunikasi yang baik antar tetangga, terutama setelah sebagian warga menjalani aktivitas di luar daerah.
Dengan terselenggaranya tradisi kupatan ini, masyarakat berharap nilai – nilai kearifan lokal seperti kebersamaan, rasa syukur, dan solidaritas sosial dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pemerintah setempat juga diharapkan dapat terus mendukung pelestarian tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah. ( Vamberrino )














