Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID — Di tengah hiruk-pikuk pasar literasi yang didominasi romansa picisan, awal April 2026 ini dikejutkan oleh kehadiran sebuah karya yang mencekam sekaligus puitis. Mohammad Hairul kembali merilis karya terbarunya bertajuk Novel Bersampul Batik.
Bukan sekadar kisah cinta biasa, novel ini muncul sebagai sebuah “otopsi emosional”. Ia membedah bagaimana jiwa manusia dipaksa menjadi kertas kosong di bawah tekanan tradisi dan utang budi.
Tim Lensa Nusantara (LN) berkesempatan menemui Mohammad Hairul (MH) pada Senin (6/4/2026) untuk menggali lebih dalam misteri di balik wastra dan luka yang ia tulis.
LN: Membaca karya terbaru Anda, kami merasa ini adalah sebuah pemberontakan diam-diam. Mengapa Anda memilih motif Sido Mukti secara spesifik untuk membungkus penderitaan tokoh Aida?
MH: “Karena tidak ada penjara yang lebih kejam daripada harapan yang dipaksakan. Motif Sido Mukti adalah doa agar pemakainya menjadi mulia. Namun bagi Aida, kemuliaan itu adalah beban. Ia mulia di mata masyarakat karena menikahi Gus Haikal, tapi ia hina di hadapan batinnya sendiri karena harus mengubur cinta intelektualnya, Mahiru Khair. Sido Mukti di sini adalah kain kafan bagi kejujurannya.”
LN: Mengenai Mahiru Khair, Anda menyebutnya melakukan ‘sabotase emosional’. Bukankah dengan mengungkap rahasia Aida ke dalam novelnya, ia justru menghancurkan perlindungan Aida? Apakah ini cinta atau sekadar eksploitasi tragedi untuk sebuah karya?
MH: “Itulah ambiguitas seorang seniman. Mahiru adalah ‘Penenun Angin’. Ia tahu angin tidak bisa dipenjara, tapi ia juga tahu bahwa untuk membebaskan Aida, ia harus menghancurkan ‘rumah kaca’-nya. Mahiru melempar bom atom ke dalam pernikahan Aida melalui literatur. Ini adalah cinta yang egois, sekaligus membebaskan. Ia memaksa Aida telanjang di hadapan kenyataan.”
LN: Ada metafora menarik tentang ‘huruf-huruf cahaya’ atau rajah di punggung Mahiru. Apakah ini simbol bahwa luka itu sudah mendarah daging sebelum sampai ke kertas?
MH: “Tepat. Tubuh Mahiru adalah naskah asli, sedangkan bukunya hanyalah salinan. Aida menyampul buku Mahiru dengan batik untuk menyembunyikan identitas, sementara Mahiru ‘merajah’ identitas itu di kulitnya sendiri. Ini adalah kontras antara orang yang ingin bersembunyi dan orang yang sudah tidak punya apa pun lagi untuk disembunyikan.”
Novel Bersampul Batik bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dirasakan sebagai getaran di bawah kulit. Mohammad Hairul berhasil memotret bagaimana kemerdekaan seorang manusia sering kali ditukar dengan mahar luka. Sebuah refleksi pedih bagi siapa saja yang masih menyembunyikan “aroma penyesalan” di balik sampul kehidupan mereka yang tampak rapi.














