Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kehadiran novel terbaru karya Mohammad Hairul yang berjudul Novel Bersampul Batik mulai mencuri perhatian khalayak luas, terutama di kalangan aktivis mahasiswa.
Novel ini tidak hanya menyuguhkan romansa yang pelik, tetapi juga memotret dinamika intelektual dan emosional tokoh-tokohnya yang memiliki latar belakang sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tokoh utama pria, Mahiru Khair, digambarkan sebagai sosok intelektual muda yang memiliki rekam jejak kuat sebagai aktivis kampus sebelum akhirnya meniti karier sebagai dosen. Pesonanya sebagai “singa podium” yang memukau saat mengisi seminar bedah buku di universitas menjadi salah satu bagian yang paling berkesan bagi pembaca
Berikut adalah beberapa rangkuman kesan dari pembaca mengenai sosok aktivis dalam novel tersebut.
Banyak pembaca terkesan dengan cara penulis menggambarkan Mahiru yang tidak hanya jago berorasi, tetapi juga tetap memegang teguh nilai-nilai kesantriannya.
“Tokoh Mahiru memberikan definisi baru tentang keren. Ia bisa menjadi singa di podium namun tetap bersujud penuh isak di atas sajadah biru dongkernya,” ujar Daris Wibisono Setiawan, saat mengomentari adegan di Fakultas Sastra.
Tokoh Aida juga tak kalah mempesona. Sebagai perempuan yang pernah mengasah argumennya di lingkungan pesantren Darul Marwah, ia tampil sebagai sosok yang cerdas dan berwawasan luas. Perjuangannya untuk “memegang kemudi sendiri” atas hidupnya dianggap sangat relevan dengan semangat independensi kader perempuan PMII (KOPRI).
Salah satu adegan paling emosional yang diperbincangkan pembaca adalah ketika Mahiru menyinggung tentang “jas almamater” yang masih tersimpan rapi sebagai simbol kenangan dan harga diri. Bagi para aktivis, jas almamater bukan sekadar pakaian, melainkan identitas perjuangan yang dibawa hingga masa pasca-kampus.
Melalui alur yang emosional, novel ini berhasil memotret sisi manusiawi kaum pergerakan. Bahwa di balik orasi yang menggelegar dan analisis sosial yang tajam, mereka adalah pribadi yang juga bergulat dengan kerentanan batin.
Pembaca diajak menyelami bagaimana idealisme aktivis diuji ketika berhadapan dengan sekat tradisi, restu keluarga, dan realitas hidup yang sering kali tidak seindah jargon-jargon di aksi demonstrasi.
Penulis seolah menegaskan bahwa menjadi aktivis bukan sekadar memenangkan narasi di forum, melainkan keberanian mengambil keputusan tersulit dengan tetap menjaga integritas nurani.
Mohammad Hairul, sang penulis yang juga merupakan alumni PMII, menuturkan bahwa tokoh-tokoh dalam Bersampul Batik adalah representasi dari “dialektika rasa” yang dialami banyak kader pasca-kampus.
Bagi para aktivis, alumni, maupun kader yang merindukan hangatnya diskusi di sekretariat, deru aksi di jalanan, hingga kedalaman makna kitab kuning, novel ini adalah cermin perjuangan.
Novel Bersampul Batik bukan hanya cerita romansa, melainkan sebuah manifes tentang bagaimana cinta dan perjuangan harus berjalan beriringan dalam satu tarikan napas pengabdian.










