Daerah

Tidak Adanya Perhatian, Kades dan Masyarakat Desa Merden Banjarnegara, Bangun Jembatan dengan Anggaran Swadaya

921
×

Tidak Adanya Perhatian, Kades dan Masyarakat Desa Merden Banjarnegara, Bangun Jembatan dengan Anggaran Swadaya

Sebarkan artikel ini
Puluhan masyarakat laki-laki dan perempuan dusun sinangka dan lubang purwa Desa Merden, rela gotong royong bangun jembatan tanpa dibayar, Kamis, 30/4/2026. Foto : (Gunawan/Lensa Nusantara).

Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Dipangkasnya anggaran DD oleh Pemerintah Pusat secara ugal-ugalan, saat ini memang sangat terdampak bagi kelanjutan pembangunan infrastruktur di tingkat Desa, sehingga banyak Kades yang saat ini kelabakan untuk mencari anggaran lainnya seperti Bantuan Keuangan Khusus Propinsi maupun Daerah hingga aspirasi anggota Dewan, hal itu dilakukan agar bisa membangun sesuai tuntutan masyarakatnya, termasuk jembatan dan jalan.

Mungkin bagi masyarakat yang sadar akan efisiensi yang diterapkan Pemerintah Pusat mengenai berkurangnya DD, tentu berfikir logis, salah satunya adalah dengan semangat swadaya dan gotong royong.

Example 300x600

Salah satunya adalah masyarakat dukuh sinangka dan lubang purwa, Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Dengan anggaran swadaya, mereka membangun jembatan yang beberapa waktu lalu roboh karena longsor.

Pantauan lensanusantara.co.id saat melihat pengerjaan di lokasi, tidak hanya laki-laki, kaum perempuan dan anak-anak pun terlihat begitu semangat membantu pengerjaan jembatan yang memiliki panjang 16 meter dan ketebalan lantai 20 cm tersebut.

BACA JUGA :
Kejuaraan Eblek, Meriahkan Puncak Hari Jadi Banjarnegara ke-452

Menurut Kepala Desa Merden yang setiap hari ikut mendampingi pengerjaan jembatan tersebut membeberkan, dalam pembangunan jembatan secara gotong royong tersebut, hanya dibantu dadi anggaran kebencanaan senilai Rp 10 juta.

“Dari anggaran stimulan DD jujur saja cuma Rp 10 juta, memang segitu anggarannya, karena memang tidak ada anggaran lainnya, mau diambilkan dari pos lain nanti bisa jadi temuan, dan sisanya murni swadaya masyarakat kami, karena jembatan ini habisnya sekitar Rp 100 juta lebih, pondasi penyangga karena sudah termakan usia kita juga ganti semua dengan tingginya saja 8 meteran, karena akses sini termasuk akses alternatif ke Desa Kalitengah, saat jalan utama tidak bisa digunakan,” ujar Kades Sadar, Kamis, (30/4/2026).

Kades Sadar juga mengakui, swadaya yang dilakukan masyarakatnya dalam membantu pembangunan di Desa, adalah bentuk kesadaran, karena sudah tidak adanya anggaran Dana Desa seperti tahun-tahun sebelumnya.

BACA JUGA :
‎Polemik Pilprades Desa Purwasaba Banjarnegara Masih Memanas, Tri Wibowo: Pembentukan Panitia Tidak Melalui Musdes

“Alhamdulillah masyarakat kami sadar kalau Dana Desa dari Pusat itu hanya beberapa saja, itupun belum di potong untuk anggaran seperti BLT atau lainnya, sehingga ya gimana lagi kalau tidak dengan swadaya, karena jembatan ini roboh lama, baru ini bisa dibangun dengan anggaran para donatur, BPD dan Perangkat saja saya mintai bantuan, karena memang sudah darurat, kalau tidak begini tidak akan jadi, kasihan masyarakat kami, yang ada di dua dusun, harus mutar jauh ke Kalitengah,” ungkap Kades Sadar.

Masih kata Kades Sadar,” Sebelum dibangun dengan swadaya pun kita sudah berulang kali melakukan sosialisasi dan rapat sama warga sini, apalagi ini anggaran milik mereka, meskipun semua yang ikut membangun hingga kadang lembur malam hari, seperti anggaran memang ini benar-benar di awasi masyarakat langsung, bukan bermaksud sombong, tentu saya membantu tapi kan uang pribadi paling tidak bisa banyak, makanya saya bilang ke masyarakat, kalau menunggu bantuan belum jelas kapan turunnya, akhirnya dengan kesepakatan kita bangun dengan semangat swadaya, dan saya juga berpesan uang yang masuk dikelola dengan baik, berapa pengeluaran di hitung dengan rinci, biar kemudian hari tidak ada permasalahan tingkat dusun,” ungkap Sadar.

BACA JUGA :
Merasa Dicemarkan Nama Baiknya, Anggota DPRD Banjarnegara Akan Melaporkan Satu Akun Tik Tok

Memang jembatan selama ini adalah salah satu kebutuhan yang bisa dianggap kolektif, karena manfaatnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat terkhusus Pedesaan, karena masuk akses utama dalam membantu peningkatan perekonomian berbagai bidang, sehingga masuk prioritas utama dalam kebutuhan mendesak dalam membangun Desa hingga Daerah.

Semoga dengan dipangkasnya anggaran DD dari Pemerintah Pusat, banyak masyarakat lainnya bisa meniru bahwa membangun Desa tidak harus menunggu bantuan Pusat atau dari Dewan, tapi dengan semangat kegotong royongan, semua bisa dilakukan. (Gunawan)