Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Fenomena maraknya pembangunan gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Kabupaten Banjarnegara yang diduga tanpa titik koordinat mulai bermunculan di berbagai Kecamatan. Beberapa dapur secara tiba-tiba terbangun, hal itulah yang saat ini menjadi sebuah sorotan tajam, karena disinyalir berakar dari permainan para oknum yang tidak bertanggung jawab yang menjanjikan lokasi SPPG.
Dalam penelusuran lensanusantara.co.id di lapangan menemukan, ratusan gedung Dapur SPPG ditemukan berdiri, mulai dari yang resmi maupun tanpa titik/ilegal
Padahal kuota sudah ditutup lama oleh BGN, lantas siapakah yang bermain titik tersebut.
Sementara di Kabupaten Banjarnegara, tercatat sekitar 166 titik yang terdaftar, sedangkan 85 sudah dilengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) oleh Dinas Kesehatan, namun dari jumlah tersebut masih banyak ditemukan pembangunan fisik dapur SPPG yang tidak jelas milik siapa.
Dari sumber terpercaya yang masuk ke kantor Kabiro lensansuantara.co.id Banjarnegara, fenomena banyaknya dapur SPPG terbangun, diduga berawal adanya Yayasan nakal yang bermain dengan menjanjikan sebuah titik ke mitra, yang di sinyalir beberapa sudah mengeluarkan uang.
” Sebenarnya dapur baru yang saat ini banyak dibangun itu titik beli semua, kan portal di BGN dah di tutup tapi anehnya bisa banyak sekarang, seperti Kecamatan Mandiraja hingga Susukan, itu menjamur gedung SPPG, tidak tahu milik siapa,” ungkap salah satu pemilik SPPG kepada wartawan, Senin, (9/6/2026).
MY juga membeberkan, di Kabupaten Banjarnegara, fisik gedung SPPG tanpa titik dan tidak jelas, jumlahnya tidak sedikit, menurutnya jika di cek setiap Kecamatan bisa mencapai puluhan.
” Wilayah Kecamatan Mandiraja saja itu fisik gedung tanpa titik hampir 10, kayak di Simbang, Glempang, Kertayasa, itu malah ada itu berjejeran belum ada titiknya, terus Panggisari, harusnya itu tidak masuk, saya menduga mereka beli titik sama oknum, itu baru satu Kecamatan, belum di wilayah Klampok, Susukan, Purwonegoro dan lainnya, tapi paling ngawur saat ini Kecamatan Mandiraja, bangunnya dapur edan-edanan,” beber MY.
Buka-bukaan tidak hanya di lakukan oleh MY, pemilik dapur SPPG lainnya berinisial JN juga secara terang-terangkan mengatakan, di Kabupaten Banjarnegara adanya Yayasan yang bermain titik dan sudah banyak korban.
“Aslinya sejak dulu banyak petinggi di BGN bobrok main dan jual titik seenak jidat, akhirnya mitra yang sudah duluan jalan kasian, juknis berubah ubah jadi sangat dirugikan, di Banjarnegara banyak banget mas titik di jual dengan harga tidak kira- kira, sekarang mumeti pokoknya mas mitra yang sudah jalan duluan jadi korban, BGN main suspen kalau ada masalah dengan mitra yang sudah sejak awal buka tidak mikir, saya dulu buka hasil sampai pakai hutang,” beber JN.
Masih kata JN,” Kalau dibilang ada Yayasan di Banjarnegara bermain titik memang benar, korban juga banyak kalau di telusuri, makanya banyak gedung SPPG bermunculan saat ini, saya sendiri tidak munafik benar cari uang, tapi tidak begitu caranya, cuma sekarang mumet BGN membuat peraturan merubah juknis atau suspen semau mereka sekarang, tidak memikirkan yang sejak awal.pokokmya, dan itu terkait Yayasan *, itu yang bikin citra dapur Banjarnegara rusak, dan kalau masnya nanya terkait harga jual beli titik sekarang, memang benar adanya,” tambahnya.
Selain banyaknya bangunan fisik SPPG yang marak, lensanusantara.co.id juga menemukan dua kasus perpindahan titik SPPG, seperti di gedung SPPG Simbang, Kecamatan Mandiraja, yang titiknya ads di Somawangi, dan satu kasus lagi titik berada di Kecamatan Rakit, namun gedung ada di Kecamatan Purwanegara.
Terkait beberapa temuan tersebut, mampukah BGN menertibkan SPPG yang tidak resmi di Kabupaten Banjarnegara, dan membongkar permainan jual beli titik yang saat ini menjadi berita trending setelah tiga petingginya ditangkap Kajaksaan Agung. (Gunawan).














