Edukasi

Menyimpan Luka dengan Anggun dalam Novel Bersampul Batik karya Mohammad Hairul

1700
×

Menyimpan Luka dengan Anggun dalam Novel Bersampul Batik karya Mohammad Hairul

Sebarkan artikel ini
Review oleh Iffatun Navisah atas Novel Bersampul Batik karya Mohammad Hairul.

Pada halaman awal novel ini, pembaca diajak memasuki sebuah ruang kegelisahan. Kenyataan dan gejolak emosi berjalin erat. Sosok Aida menyimpan dan menyembunyikan novel-novel karya Mahiru Khair dari suaminya Gus Haikal. Hal ini menunjukkan di hadapan dunia, Aida tampak teguh menjaga keutuhan rumah tangga yang terpaksa dipilihnya. Namun di balik keteguhan itu tersimpan sebuah ruang sunyi yang tak pernah benar-benar dapat dijangkau siapa pun [selain Mahiru].

Aida hidup di antara dua arus yang saling berlawanan. Kesetiaan yang menanggung luka seperti langit menanggung hujan, dan di kedalaman jiwanya Mahiru masih bersemayam sebagai cahaya samar yang tak lagi dapat digenggam, tetapi juga tak mampu dipadamkan. 

Example 300x600

Mahiru Khair sosok “Lelaki Penenun Angin” seorang ustaz yang menyimpan rasa cinta kepada santri bernama Aida. Sosok lelaki tanpa banyak pilihan, Ia memilih jalan yang paling sunyi yaitu melepaskan Aida. Keputusan itu bukan lahir dari ketiadaan cinta, melainkan dari keberanian untuk menaklukkan ego yang paling dalam.

BACA JUGA :
Bupati Jember Tinjau Program Peta Cinta Layanan Adminduk di Kecamatan Bangsalsari

Melepaskan Aida bukanlah sebuah kekalahan, namun memberikan ruang bagi Aida agar martabatnya sebagai perempuan tetap terjaga. Bukankah ini adalah bentuk pengorbanan yang paling agung? Ketika seorang lelaki memahami bahwa perannya bukan semata menjadi pemenang yang akhirnya dipilih, melainkan menjadi pelindung yang sanggup menjaga bahkan saat Ia tak lagi memiliki hak untuk menggenggam.

Tokoh Mahiru menyadari bahwa cinta sejati tidak selalu mencari kemenangan, cintanya telah tumbuh melampaui hasrat untuk saling memiliki. Melanjutkan hidup dan meniti karier adalah pilihan paling memungkinkan untuk seorang laki-laki yang telah memenangkan hati Aida. 

Konflik mencapai puncaknya dan mengaduk-aduk seluruh lapisan emosi pembaca ketika Aida akhirnya memilih menyerah pada nasib yang perlahan mengurungnya, agar Mahiru tidak lagi disakiti oleh Kakakny dan Gus Haikal. Aida rela dipenjara seumur hidup dalam sebuah rumah tangga yang tidak pernah mau Ia bangun.

Keputusan Aida untuk menyerah adalah bentuk pengorbanan cinta paling tragis. Dalam kepasrahan itu, Aida menjadi sosok yang menyimpan duka dengan anggun. Hingga belasan tahun kemudian Aida memilih untuk terus berjalan. Bukan karena Ia telah melupakan, melainkan karena Ia memahami bahwa hidup tidak berhenti pada satu kehilangan.

BACA JUGA :
Temui UMKM dan Petani di Bunga Desaku, Bupati Jember Sosialisasikan Program Mlijo Cinta dan UHC

Membuka tumpukan naskah buku karya Mahiru Khair tanpa rasa bersalah dan ketakutan adalah kemenangan paling hakiki dari pertarungannya yang paling agung. Cinta yang bertahun-tahun hidup sebagai rahasia, lalu akhirnya menemukan kebebasan untuk tinggal di dalam hati tanpa perlu bersembunyi. 

Novel ini mengingatkan bahwa cinta adalah wilayah paling sunyi dalam diri manusia, tempat logika acap kali kehilangan arah. Kisah cinta manusia adalah samudera yang tidak benar-benar dapat dijelajahi. Setiap kata, frasa, dan kalimat berhasil mengoyak hati para pembaca untuk turut menjadi Aida. Merasakan betapa sosok Aida sangat relate dengan kehidupan nyata.

Sosok Aida pun terasa begitu dekat, hingga mudah dijumpai dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ia bukan sekadar tokoh dalam rangkaian cerita fiksi, melainkan cermin yang memantulkan wajah banyak perempuan dengan luka, pilihan, dan gejolak batinnya sendiri.

BACA JUGA :
Wujudkan Generasi Emas, Bupati Jember Ajak Kader Posyandu Perkuat Edukasi Imunisasi

Novel ini juga diperkaya oleh jalinan konflik sosial-budaya. Di dalamnya masyarakat Madura hadir dengan keyakinanya tentang martabat laki-laki, tradisi perjodohan dengan sepupu, tuduhan praktik sihir sebagai ikhtiar memenangkan hati Aida, hingga kenyataan bahwa keturunan keluarga pesantren menempati posisi terhormat dalam tatanan sosial masyarakat sampai saat ini.

Bahkan, perjodohan sebagai cara membayar utang budi menjadi sumber konflik utama cerita. Semakin terasa bahwa setiap rangkaian peristiwa bukan hanya cerita fiksi, melainkan wujud dari pergulatan manusia dengan adat, cinta, dan kehormatan yang tak pernah terlihat sederhana. 

Membacanya sampai tiga kali menghadirkan keyakinan yang kian utuh bahwa cinta adalah rasa yang suci dan abadi. Ia tak dapat dihapus oleh jarak, waktu, ataupun luka. Ia bukan sesuatu yang dapat disingkirkan begitu saja. Semakin kuat seseorang berusaha menguburnya, semakin dalam pula ia berakar dalam ingatan dan hati.