Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Car Free Day (CFD) Desa Simbang – Kebanaran, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara, yang seharusnya mampu meningkatkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), ternyata tidak sesuai ekspektasi yang diharapkan oleh pedagang, karena diduga buat ajang mencari keuntungan bagi para oknum yang mengaku Karang Taruna setempat.
Menurut pedagang berinisial KL mengatakan, iuran untuk berdagang di kegiatan CFD Simbang- Kebanaran, dianggap sangat membebani para pedagang karena harus merogoh kocek Rp 15.000 per lapaknya. Tidak hanya itu, pedagangpun masih harus mengeluarkan Rp2000 untuk parkir.
“Dari Rp 15.000 itu katanya untuk Karang Taruna Desa Simbang Rp 5000 dan Kebanaran Rp 5000, terus yang Rp 5000 untuk kebersihan alasannya, tapi pedagang masih disuruh menjaga kebersihan jangan sampai ada yang berserakan, gunanya apa kita iuran untuk kebersihan, berarti untuk bayar orang nganggur yang duduk manis,” ungkap KL salah satu pedagang yang sejak awal menjajakan dagangannya di CFD Simbang-Kebanaran, Selasa malam, (28/7/2026).
Tidak hanya itu, KL juga membeberkan, awal adanya CFD di Simbang – Kebanaran hanyalah coba-coba dengan beberapa pedagang dengan lapak gratis, namun lama kelamaan setalah ramai merasa di manfaatkan.
“Pertama kali CFD itu gratis lapaknya, untuk minggu pertama hanya beberapa pedagang untuk uji coba dan ternyata antusias masyarakat begitu luar biasa, di CFD ke 2 itu pedagang membludak lebih dari 350 lapak, terus minggu ke 3 melonjak lagi jadi sekitar 400 lebih, malah kesini-kesini pedagang seperti diperas, wajib bayar Rp 15.000, parkir sendiri, brrti Rp 17.000, bagi kami pedagang untung apa, hanya habis bayar lapak saja, memberikan makan orang nganggur,” jelas pedagang.
Masih kata KL,”Malah ada pedagang yang hanya laku cuma buat bayar lapak saja dan pedagang ngomong sama yang biasa narik iuran agar bisa diturunkan karena merasa keuntungannya hanya untuk bayar lapak, dan mirisnya jawaban yang biasa narik itu tidak mengenakan hati karena jawabannya kalau tidak mau bayar segitu Minggu besok jangan jualan disini, katanya ada undang-undang baru katanya, kalau pedagang asli Simbang – Kebanaran akan di tarik Rp.10.000, kalau dari luar di tarik seperti biasa Rp15.000, ini namanya tebang pilih karena itu kan jalan kabupaten masa di kuasai desa, memeras pedagang kecil dengan cara halus kalau ini,” jengkel KL.
Tidak hanya KL, salah satu pedagang lainnya mengaku harus merogoh kocek Rp 20.000, dalam group di pedagang CFD Simbang dirinya ditarik parkir Rp 5000.
“Saya malah ditarik dua kali parkir, baru datang ditarik, pulang ditarik, berat banget ya mengeluarkan uang sekali Rp 20.000,”tulisnya.
Meskipun kegiatan Car Free Day yang ada di Desa Simbang dan Kebanaran yang sudah berjalan beberapa kali tersebut sudah mengantongi izin, harusnya pihak panitia atau penyelenggara tidak serta merta memanfaatkan para pedagang kecil yang sedang berjuang demi sesuap nasi untuk keluarganya agar bisa bertahan hidup di tengah perekonomian yang memburuk saat ini. (Gunawan).














