Kesehatan

Ngobatan Bersama RSUD Pandega, Tentang Bahaya Anemia Pada Anak

2011
×

Ngobatan Bersama RSUD Pandega, Tentang Bahaya Anemia Pada Anak

Sebarkan artikel ini

PANGANDARAN, LENSANUSANTARA.CO.ID – telah dilaksanakan kegiatan NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) tentang “Bahaya Anemia Pada Anak” yang dijelaskan oleh dr. Jenni Mutiara Saragih (Dokter Umum RSUD Pandega Pangandaran). Kamis (06/08/26)

Example 300x600

Anemia pada anak merupakan kondisi berbahaya yang dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak secara permanen jika tidak ditangani sejak dini. Kondisi kurangnya sel darah merah yang sehat ini membuat organ tubuh kekurangan pasokan oksigen. Hal ini berdampak buruk pada kemampuan belajar, daya tahan tubuh, hingga masa depan anak.

Berikut adalah bahaya dan dampak serius anemia pada anak yang wajib diwaspadai orang tua:

  1. Gangguan Otak dan Penurunan Kecerdasan
    • Mengurangi pasokan oksigen ke otak secara kronis.
    • Menurunkan fungsi kognitif dan daya tangkap anak.
    • Merusak working memory serta konsentrasi belajar.
    • Menurunkan prestasi akademik secara signifikan di sekolah.
  2. Hambatan Pertumbuhan Fisik dan Stunting
    • Menghambat regenerasi sel pertumbuhan akibat minim gizi dan oksigen.
    • Meningkatkan risiko stunting atau bertubuh pendek.
    • Membuat berat badan seret dan pertumbuhan tinggi anak melambat.
    • Menunda masa pubertas anak saat beranjak remaja.
  3. Penurunan Daya Tahan Tubuh (Sering Sakit)
    • Zat besi yang rendah melemahkan sistem imun tubuh.
    • Anak menjadi rentan terserang infeksi bakteri dan virus.
    • Meningkatkan risiko diare serta Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
  4. Gangguan Perilaku dan Emosional
    • Memicu sifat rewel, lemas, gampang lelah, dan anak malas bermain.
    • Meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan gangguan konsentrasi (ADHD).
    • Memicu gangguan makan pica, yaitu keinginan aneh memakan benda bukan makanan seperti kapur atau tanah.
  5. Komplikasi Jantung (Kasus Berat)
    • Memaksa jantung bekerja berkali-kali lipat lebih keras.
    • Menyebabkan jantung berdebar untuk mengalirkan sisa oksigen yang terbatas.
    • Memicu kelemahan jantung atau gagal jantung dalam jangka Panjang.
BACA JUGA :
Pasukan Mak Lampir Turun Ikut Karnaval di Desa Kertayasa Banjarnegara

Tanda-Tanda Anak Mengalami Anemia
Bunda dapat mengenali gejalanya melalui panduan dari Kementerian Kesehatan RI berikut:
• Wajah, bibir, kuku, dan telapak tangan tampak pucat.
• Anak terlihat lesu, lunglai, dan tidur siang jauh lebih lama.
• Kelopak mata bagian dalam berwarna pucat atau sayu.

Untuk mencegahnya, pastikan si Kecil mendapatkan asupan kaya zat besi dan protein hewani (seperti daging, ikan, dan telur). Jika mencurigai gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter anak untuk pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb).

BACA JUGA :
Beban Truk Muatan Pasir dari Tambang, Diduga Sebagai Faktor Utama Putusnya Jembatan di Desa Petir Banjarnegara

Jika Anda ingin memeriksa kondisi si Kecil, beri tahu saya:
• Berapa usia anak Anda saat ini?
• Apa saja gejala fisik yang paling terlihat (pucat, lemas, atau lainnya)?
• Bagaimana pola makan harian anak (apakah sulit makan protein)?

Cara mengobati anemia pada anak harus disesuaikan dengan penyebab utamanya, yang paling sering adalah akibat anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi.

Berikut adalah langkah-langkah penanganan anemia pada anak yang terstruktur dan aman:

  1. Konsultasi dan Pengobatan Medis
    Jangan memberikan obat sembarangan tanpa resep dokter spesialis anak. Dokter biasanya akan memberikan penanganan seperti:
    • Suplemen Zat Besi dan Vitamin: Diberikan jika anak kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12. Pastikan mengonsumsi suplemen sesuai dosis dokter.
    • Obat-obatan Khusus: Dokter akan meresepkan antibiotik jika anemia dipicu infeksi bakteri, atau memberikan obat cacing jika anemia disebabkan oleh cacingan.
    • Transfusi Darah: Dilakukan di rumah sakit hanya untuk kasus anemia yang sudah sangat parah atau mengancam nyawa.
  2. Perubahan Pola Makan (Nutrisi Kaya Zat Besi)
    Berikan makanan bergizi seimbang untuk mendongkrak produksi sel darah merah:
    • Protein Hewani (Zat Besi Heme): Daging merah (sapi/kambing), hati ayam/sapi, ikan, dan telur merupakan sumber zat besi yang paling mudah diserap tubuh anak.
    • Sayuran Hijau dan Nabati: Bayam, brokoli, dan kacang-kacangan.
    • Makanan Terfortifikasi: Sereal, susu, atau roti yang sudah diperkaya dengan zat besi tambahan.
  3. Mengoptimalkan Penyerapan Nutrisi
    Cara menyajikan makanan juga memengaruhi keberhasilan pengobatan:
    • Kombinasikan dengan Vitamin C: Berikan buah seperti jeruk, stroberi, atau kiwi saat anak makan. Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi nabati dengan jauh lebih baik.
    • Hindari Pemberian Teh: Jangan berikan teh atau susu berdekatan dengan jam makan utama atau saat anak meminum suplemen besi. Kandungan tanin pada teh dan kalsium tinggi pada susu dapat menghambat penyerapan zat besi.
BACA JUGA :
‎Sholat Idul Fitri bersama Pemda Banjarnegara, Ribuan Jamaah Memadati Alun-alun Sejak Pagi Buta

Sahabat Pandega juga bisa mengunduh materie dukasi ini melalui tautan https://bit.ly/materiedukasipandega . ( N.Nurhadi )