Lensa Nusantara
Daerah Featured

Bukan Menutup Pencaharian Masyarakat, Pembatasan Jam Malam Menurut Wagub Emil untuk Menghidari Mudhorot Cangkukan Malam

Trenggalek, LENSANUSANTARA.CO.ID -Dalam kunjungannya ke Trenggalek, Wagub Jatim, Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc., mencoba menydarkan kepada masyarakat, Pemerintah memberlakukan jam malam bukan ditujukan untuk menutup mata pencaharian masyarakat. Dijelaskan olehnya, semua itu lebih ditujukan untuk menghindari mudhorotnya cangkrukan di tengah malam.

“Pembatasan jam malam bukan untuk menutup mata pencahariannya masyarakat, karena masih boleh buka sebenarnya. Akan tetapi bukanya dibatasi jam operasionalnya,” terang Wagub Jatim, Emil Dardak disela kunjungannya ke Trenggalek, Sabtu (23/1/2021).

Saya kemarin baru dari Malang lanjutnya, “ditanya juga dan saya menjawab yang kita hindari ini mudorotnya cangkruk jam malam. Jadi cangkrukan malam itu dikhawatirkan banyak mudhorotnya dalam penyebaran covid 19,” lanjut suami Arumi Bachsin ini.

Kasus tambahan harian yang kian meningkat di Jatim termasuk di Trenggalek, bahkan mengantarkan Trenggalek masuk zona merah tentunya menjadikan pemerintah perlu mengambil beberapa langkah kebijakan. Sepertihalnya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Jawa-Bali.

Putra mantan Wamen PU, Hermanto Dardak ini menambahkan, Kita harapkan tetap usaha usaha kuliner masih bisa operasi dan kami kembalikan ke pemkab jam operasional itu bisa sampai jam 8 malam seperti instruksi Mendagri.

Setelah itu sebenarnya bisa take away. Namun harus hati-hati, judulnya take away namun menunggu di situ juga harus disikapi. Dan ini membutuhkan kerjasama semua pihak.

Hari ini kita akan bertemu beberapa tokoh dan ingin melihat seberapa besar respon masyarakat. Kebanyakan orang dengar PPKM, PSBB itu agak khawatir tidak melaksanakan rutinitas aktivitasnya.

Padahal pemberlakuan PPKM ini pemerintah mencari keseimbangan. Pandemi masih ada, vaksinasi membawa harapan akan tetapi ada masa kita berproses. “Jangan sampai kewaspadaan ini hilang,” pesannya.

Dibandingkan dengan tanggal 19 November, kasus angka tambahan harian cenderung meningkat. Kasus di Jatim dari 300 agregat menjadi 900 per hari. Dan ini naik hingga menjelang akhir tahun.

Setelah diberlakukannya PPKM ini kami melihat trend ini melandai. Bukan berarti tidak ada kasus baru namun kasus hariannya relatif melandai.

Setelah melandai lantas stop, bukan !. Artinya adalah mempertahankan keseimbangan ini, bukan berarti stop. PPKM ini ditujukan mencari keseimbangan kapasitas yang pemerintah bisa menekan angka peningkatan hariannya tidak terus naik. Syukur-syukur habis ini turun.

Karena kita khawatir tempat tidur penuh di rumah sakit. Permintaan APD terus meningkat dan tenaga medis juga banyak yang lembur menangani pasien Covid.

“Kita sedih sekali mendengar ada yang tidak mendapat tempat sampai meninggal, meskipun sampai saat ini tim kuratif terus berjuang memenuhi penanganan Covid di Jatim,” tandasnya. (Yan/ping)

Related posts

Presiden Jokowi Resmikan Tol Pekanbaru-Dumai dari Istana Bogor

Lensa Nusantara

Hendak mencari rumput, pria asal Desa Wedusan di temukan tenggelam di sungai pekalen Probolinggo

ADM

Sakera Sakti Bekuk Komplotan Pencuri Kotak Amal untuk Pesta Sabu di Pamekasan

Lensa Nusantara