Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Bagi masyarakat Jawa, Kirab Bumi adalah salah satu budaya yang wajib dilaksanakan, sehingga berbagai Desa dengan tradisinya masing-masing, selalu melaksanakan acara yang dianggap sakral tersebut, karena menurut kepercayaan sejak zaman para leluhur dipercaya bisa mendatangkan keberkahan untuk masyarakatnya sekaligus sebagai wujud syukur atas rezeki melimpah hingga kesehatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Termasuk di Desa Brengkok, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, dengan memakai pakaian adat Jawa, ratusan warga dengan begitu antusias mengikuti ruwat desa yang diadakan setahun sekali. Selain mengarak gunungan yang berisi hasil bumil seperti sayuran, buah-buahan hingga jajanan lokal, juga nampak ada juga pasukan yang membawa tenong dan rombongan sepeda ontel yang ikut memeriahkan.
Dalam pantauan lensanusantara.co.id, terlihat para peserta kirab bumi yang dimulai dari Kantor Desa Brengkok menuju lapangan tersebut dengan dipimpin seorang cucuk lampah dengan gemulainya memandu selama perjalanan.
Sebagai bentuk kesakralan ruwat bumi, hal menarik adalah dimana prosesi penyerahan pusaka yang sudah di jamas atau dibersihkan dari sesepuh desa kepada Kades Brengkok, yang selama ini dipercaya sebagai simbol mampu menolak balak yang terjadi di desa dan juga sebagai sebuah estafet kepemimpinan yang harus tanggung jawab dalam menjaga ketentraman dan kerukunan masyarakatnya.
Kepada lensanussantara.co.id, Kades Paryan mengungkapkan, dibandingkan 2025 lalu, kemeriahan ruwat bumi lebih meriah di tahun 2026, menurutnya ssmua masyarakat dari kecil hingga tua ikut terlibat dalam acara yang sudah menjadi tradisi turun temurun itu.
“Memang meriah tahun ini, Alhamdulillah banyak masyarakat dari segala umur ikut mensukseskan acara ruwat bumi Desa Brengkok, bisa kita lihat tadi bagaimana antusiasme mereka dalam menyambut kegiatan ruwat bumi 2026 ini, karena semua ini didasari kesadaran diri mereka masing-masing sebagai orang Jawa, memang jangan sampai hilang Jawanya, harus mampu selalu bisa nguri-nguri budaya di tanah kelahirannya, agar tidak punah, kan ini tradisi turun temurun dari nenek moyang kita dulu, jangan sampai di tinggalkan,” jelas Kades Paryan, Jumat, (10/7/2026).
Dimulai pukul 13.00 WIB, acara ruwat bumi Desa Brengkok, juga sebagai ajang untuk mengenalkan potensi lokal yang dimilki masyarakatnya selama ini, seperti memperkenalkan UMKM hingga kreatifitas yang dimiliki masyarakatnya.
“Acara ruwat bumi ini juga untuk mengenalkan potensi yang kita miliki, tidak hanya keindahan alam saja, seperti banyak jajanan hasil olahan masyarakat asli Brengkok yang saat ini sudah mulai di pasarkan, selain itu banyak juga warga kami yang bisa menari ternyata, sehingga kita tampilkan untuk mengisi di acara ruwat bumi siang ini,” ujar Kades Paryan.
Dari beberapa rundown acara di kegiatan ruwat bumi Desa Brengkok, hal menarik lainnya dimana Kades melakukan penanaman pala pendem (umbi-umbian), di lapangan dengan harapan hasil panen masyarakat bisa melimpah ruah.
“Bumi atau tanah yang kita injak selama ini juga mempunyai kehidupan, selama ini sudah memberikan segalanya kepada manusia, penanaman pala pendem sebagai syarat untuk meminta kepada Allah SWT agar panen para petani di Desa kami bisa melimpah, karena memang secara geografis Desa kami adalah pertanian, sehingga dengan diruwatnya bumi, kita juga akan diberikan timbal balik oleh Sang Pencipta melalui bumi sebagai perantaranya,” tambah Paryan.
Usai kegiatan utama, masyarakat juga dihibur dengan penampilan istri para Perangkat Desa yang begitu asyik membawakan tarian perahu layar dan tari gambyong dan malamnya pagelaran wayang kulit akan menjadi puncak acara ruwat bumi Desa Brengkok. (Gunawan).














