Ngawi, LENSANUSANTARA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini risiko kehamilan melalui kegiatan Aksi Bumil Sehat, bertema “Ibu Sehat, Bayi Sehat, Keluarga Sejahtera”. Kegiatan tersebut digelar di Aula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Geneng, Kabupaten Ngawi, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin, sekaligus memperkuat edukasi, konsultasi, deteksi dini, dan pendampingan terhadap ibu hamil hingga persalinan.
Acara dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngawi, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngawi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Direktur RSUD Geneng, Ketua Tim Penggerak PKK kecamatan dan desa, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Geneng.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Heri Nurfahrudin, mengatakan kegiatan Aksi Bumil Sehat merupakan salah satu langkah untuk menekan angka kematian ibu dan bayi melalui pemeriksaan serta deteksi dini terhadap berbagai risiko kehamilan.
Menurut Heri, hingga Juli 2026 Kabupaten Ngawi sempat mencatat capaian tanpa kasus kematian ibu dan bayi sehingga mendapatkan penghargaan zero accident. Namun, pada 6 Agustus 2026 terjadi satu kasus kematian ibu dan anak yang diduga berkaitan dengan demam berdarah dengue (DBD).
“Pada bulan Juli, Kabupaten Ngawi mendapatkan penghargaan zero accident kasus meninggal ibu dan anak. Namun, pada 6 Agustus 2026 terdapat satu kasus ibu dan anak meninggal yang diduga terkena DBD. Ketika pasien datang ke rumah sakit, tenaga kesehatan sudah berupaya memberikan penanganan,” ujar Heri.
Ia menegaskan, pemeriksaan kehamilan menjadi hal penting untuk mengidentifikasi risiko yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Saat ini, ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan, dengan sedikitnya dua kali pemeriksaan menggunakan ultrasonografi (USG).
“Pada ibu hamil wajib dilakukan skrining untuk mengidentifikasi kasus yang berisiko terhadap kematian ibu dan bayi. Pemeriksaan dilakukan enam kali dan minimal dua kali untuk pemeriksaan USG,” jelasnya.
Heri menambahkan, pemeriksaan ibu hamil secara rutin telah tersedia di puskesmas maupun rumah sakit daerah. Khusus di RSUD Geneng, pelayanan pemeriksaan ibu hamil dijadwalkan setiap Selasa.
Penguatan layanan tersebut juga dilakukan seiring bertambahnya tenaga dokter spesialis di Kabupaten Ngawi. Menurut Heri, keberadaan dokter spesialis sangat penting untuk menangani ibu hamil yang memiliki komplikasi atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kegiatan ini juga menjadi rangkaian program karena sebelumnya masih banyak kasus ibu hamil yang tidak dapat ditangani oleh dokter spesialis. Alhamdulillah, saat ini dokter spesialis di Kabupaten Ngawi sudah bertambah,” katanya.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngawi, Ana Mursyida Ony Anwar, mengatakan pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi salah satu langkah penting untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.
Ana menyebut angka kematian ibu di Kabupaten Ngawi dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan signifikan. Bahkan, hingga Juli 2026 tidak tercatat kasus kematian ibu sehingga Ngawi berhasil meraih peringkat pertama tingkat Provinsi Jawa Timur.
Namun, pada Agustus 2026 terjadi satu kasus kematian ibu yang disebutnya sebagai kondisi yang tidak terduga dan berkaitan dengan DBD.
Sementara itu, angka kematian bayi di Kabupaten Ngawi hingga saat ini masih tercatat sebanyak 51 kasus. Meski demikian, angka tersebut disebut telah mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
“Pemeriksaan rutin membantu menjaga kesehatan ibu dan bayi,” ujar Ana.
Ia mengingatkan ibu hamil agar tidak mengabaikan pemeriksaan selama kehamilan. Selain pemeriksaan rutin minimal enam kali, ibu hamil juga dianjurkan melakukan pemeriksaan USG sedikitnya dua kali untuk memantau kondisi janin.
Ana juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit DBD. Menurutnya, demam berdarah dapat terjadi kapan saja sehingga masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan dan aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Apabila mengalami demam atau keluhan kesehatan lainnya, masyarakat diminta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat memperoleh penanganan sedini mungkin.
Ana mengatakan program pemeriksaan kesehatan ibu hamil, termasuk USG, sebenarnya telah dilakukan sebelum kegiatan Aksi Bumil Sehat. Pemeriksaan tersebut telah berjalan di sejumlah puskesmas, meski belum menjangkau seluruh 24 puskesmas di Kabupaten Ngawi.
“Ini tidak hanya tahun ini. Sebelumnya sudah ada pemeriksaan USG di beberapa puskesmas, tetapi memang belum di 24 puskesmas, masih perwakilan,” kata Ana.
Melalui program Aksi Bumil Sehat, pemeriksaan USG akan terus diperkuat melalui sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Mantingan dan RSUD dr. Soeroto, serta fasilitas kesehatan lain sesuai wilayah pelayanan.
Pelayanan tersebut dilakukan secara terjadwal dengan mempertimbangkan ketersediaan tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis yang menangani pemeriksaan kehamilan.
Selain memperkuat pelayanan di fasilitas kesehatan, TP PKK Kabupaten Ngawi juga akan meningkatkan sosialisasi dan melakukan pendekatan jemput bola bagi ibu hamil yang memiliki keterbatasan waktu, termasuk mereka yang bekerja dan tidak sempat datang langsung ke fasilitas kesehatan.
“Kita akan terus melakukan sosialisasi dan jemput bola untuk ibu hamil yang bekerja maupun yang tidak sempat melakukan pemeriksaan kesehatan,” tegas Ana.
Menurut Ana, langkah tersebut diperlukan agar seluruh ibu hamil tetap memperoleh pemeriksaan secara rutin sehingga berbagai risiko kehamilan dapat diketahui dan ditangani lebih awal.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan sejak sebelum kehamilan. Perempuan usia subur diharapkan menjaga kondisi kesehatan serta rutin mengonsumsi tablet tambah darah setiap bulan sebagai salah satu upaya mencegah masalah kesehatan selama kehamilan.
Selain itu, Ana mengingatkan pentingnya program keluarga berencana (KB) setelah melahirkan. Menurutnya, KB berperan dalam merencanakan keluarga dan mengatur jarak kehamilan agar kesehatan ibu dan anak tetap terjaga.
Peran kader PKK dan kader desa juga akan terus diperkuat untuk mendampingi perempuan mulai dari remaja putri, pasangan usia subur, ibu hamil hingga ibu nifas.
Ana juga mengingatkan ibu hamil agar menjaga kondisi psikologis selama kehamilan dengan tetap bahagia dan menghindari stres. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dinilai memiliki peran penting dalam membantu ibu menjalani kehamilan dengan sehat.
“Perempuan hebat menjadi ibu hebat dengan keturunan yang hebat,” pesannya.
Sementara itu, Heri Nurfahrudin mengatakan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi terus memperkuat deteksi dini risiko kehamilan dengan mengupayakan ketersediaan layanan USG di seluruh puskesmas.
Langkah tersebut dilakukan agar ibu hamil, termasuk yang berada di wilayah pelosok, dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan sedini mungkin tanpa harus langsung menuju rumah sakit.
Dinkes Ngawi juga telah memberikan pelatihan kepada dokter di puskesmas agar mampu melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi ibu hamil. Apabila ditemukan komplikasi yang membutuhkan penanganan dokter spesialis kandungan, pasien akan segera dirujuk ke rumah sakit terdekat.
“Sudah berupaya, salah satunya memberikan USG ke semua puskesmas. Pelatihan teman-teman dokter juga sudah dilakukan agar masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan sedini mungkin bisa dilihat di puskesmas,” terang Heri.
Selain tenaga kesehatan, Dinkes Ngawi melibatkan TP PKK dan kader desa dalam pendampingan ibu hamil. Kader Posyandu turut membantu melakukan pemantauan serta mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Jika ditemukan kondisi yang perlu diperiksa, informasi tersebut akan diteruskan kepada tenaga kesehatan atau bidan desa sehingga proses pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
“Pendampingan ibu hamil melibatkan penggerak PKK dan kader-kader di desa. Dari sanalah membantu mulai dari data awal dan deteksi dini,” ujarnya.
Selain risiko kehamilan, Dinkes Ngawi juga memberikan perhatian terhadap kasus DBD, termasuk yang terjadi pada ibu hamil.
Heri mengatakan kasus DBD pada ibu hamil tergolong jarang, tetapi dapat berkembang menjadi kondisi serius sehingga membutuhkan penanganan medis secara optimal. Salah satu kasus yang terjadi baru-baru ini telah mendapatkan penanganan dokter spesialis kandungan di RSUD dr. Soeroto.
Ia mengingatkan masyarakat bahwa DBD tidak hanya muncul pada musim tertentu. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas tempat berkembang biaknya nyamuk.
“DBD tidak memandang waktu, bisa terjadi di luar musim biasanya. Masyarakat harus menyadari pentingnya pemberantasan sarang jentik nyamuk,” kata Heri.
Menurutnya, fogging dapat dilakukan apabila berdasarkan pemeriksaan klinis dan kondisi di lapangan memang diperlukan. Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi juga telah menyiapkan obat-obatan untuk mendukung pelaksanaan fogging sesuai kebutuhan.
Melalui Aksi Bumil Sehat, Pemerintah Kabupaten Ngawi bersama Dinas Kesehatan dan TP PKK berkomitmen memperkuat pemeriksaan, edukasi, pendampingan, serta sistem rujukan bagi ibu hamil.
Upaya tersebut diharapkan dapat memastikan setiap risiko kehamilan terdeteksi lebih awal dan mendapatkan penanganan yang tepat, sekaligus mendorong masyarakat untuk semakin peduli terhadap kesehatan ibu dan bayi.
Dengan penguatan layanan kesehatan hingga tingkat puskesmas, keterlibatan kader di tingkat desa, serta dukungan keluarga dan masyarakat, Kabupaten Ngawi terus berupaya mempertahankan tren penurunan angka kematian ibu dan bayi (Taufan Rahsobudi/Lensa Nusantara Ngawi).














