Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Yayasan DAMPAK berkolaborasi dengan Komunitas DIAM menggelar kegiatan bedah buku berjudul “Novel Bersampul Batik” karya Mohammad Hairul. Acara yang mengangkat tema “Membincang Relasi Kuasa Feminitas-Maskulinitas” ini berlangsung di Graha DAMPAK, Jalan Letnan Rantam, Poncogati, Curahdami, pada Sabtu (22/8/2026) sore.
Diskusi literasi yang dimulai pukul 14.30 hingga 17.00 WIB ini dipandu oleh Intan Alhaddar dari Komunitas DIAM selaku moderator dan menghadirkan jajaran narasumber berpengalaman di bidangnya.
Dalam pemaparannya, sang penulis, Mohammad Hairul, mengungkapkan bahwa novel ini lahir dari perpaduan realitas dan kondisi sosial di masyarakat.
“Karya ini merupakan paduan antara based on true story dan representasi sosial yang ada di sekitar kita. Saya ingin menyajikan jalinan cerita yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga memotret dinamika kehidupan nyata secara jujur,” ujar Prov Hairul.
Dari perspektif jurnalistik dan pengamatan literasi, Masuki M. Astro, Jurnalis Senior Antara News sekaligus Peneliti Novel Bersampul Batik, menyoroti kekayaan bahasa dan latar belakang kebudayaan dalam novel tersebut.
“Novel ini memiliki daya tarik yang sangat kuat dari segi bahasa sastrawi. Penulis berhasil membungkus narasi dengan apik melalui latar budaya kehidupan pesantren serta identitas kultural Madura yang begitu kental dan khas,” tutur Cak Ukik.
Sementara itu, Dr. Etty Umamy, M.Pd, Dosen Universitas Wisnuwardhana Malang, memberikan apresiasi dari sudut pandang akademis dan kurikulum sastra.
“Buku ini sangat direkomendasikan sebagai bahan ajar untuk mata kuliah penulisan prosa fiksi. Struktur narasi, pemandangan konflik, serta gaya bahasanya memberikan contoh konkret yang sangat baik bagi mahasiswa dalam membedah maupun menyusun karya sastra,” terang Dr. Etty.
Melengkapi tinjauan akademis, Sunita Diah Putri, Peneliti sekaligus Mahasiswa S2 Sastra Universitas Negeri Malang (UM), mengulas sisi psikologis dan perjuangan karakter perempuan dalam novel.
“Hal yang sangat menonjol dari analisis karya ini adalah bentuk agensi perempuan berupa sublimasi. Karakter dalam novel mampu mengalihkan dorongan maupun tekanan relasi kuasa menjadi wujud aksi yang positif dan berdaya,” jelas Putri.
Antusiasme juga datang dari peserta yang hadir. Iffatun Navisah, S.Pd salah satu peserta dari unsur pendidikan dan pegiat literasi, mengungkapkan impresinya terhadap karakter-karakter di dalam buku.
“Kisah Aida, Mahiru, Gus Haikal, dan Kak Halimah terasa sangat relevan dengan konteks kekinian. Konflik dan dinamika yang mereka hadapi benar-benar mencerminkan apa yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari saat ini,” ungkap Iffatun.
Menanggapi suksesnya penyelenggaraan acara ini, Ketua Yayasan DAMPAK, Sofyan Maliki, menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus menegaskan komitmen yayasannya untuk terus mendukung budaya kolaborasi lintas sektoral.
“Kolaborasi bersama Komunitas DIAM ini merupakan langkah awal yang sangat baik. Yayasan DAMPAK selalu terbuka lebar dan memberikan peluang seluas-luasnya bagi komunitas lain yang ingin berkolaborasi dalam kegiatan-kegiatan positif berikutnya. Pintu Graha DAMPAK selalu terbuka untuk membangun sinergi dan menginspirasi perubahan bersama,” pungkas Sofyan Maliki.














