Bulukumba, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kawasan pesisir Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, kembali menunjukkan daya tariknya di kancah internasional. Pada Jumat (30/1/2026), puluhan wisatawan mancanegara yang menumpang kapal pesiar MV Coral Geographer melakukan kunjungan khusus untuk menyaksikan langsung tradisi pembuatan perahu Pinisi yang legendaris.
Berdasarkan data guest manifest kapal tersebut, tercatat membawa 90 wisatawan. Mereka berasal dari berbagai negara, di antaranya Australia, Selandia Baru, Inggris, Amerika Serikat, dan Spanyol. Kunjungan ini merupakan bagian dari rute pelayaran internasional yang dimulai dari Singapura mengeksplorasi eksotisme wilayah timur Indonesia.
Salah satu wisatawan asal Australia, Rosalind Grace Surace, menyatakan kekagumannya terhadap kekayaan budaya yang dimiliki Bulukumba. Menurutnya, Tanah Beru bukan sekadar destinasi wisata, melainkan pusat peradaban bahari yang luar biasa.
“Ini adalah bagian dari lini masa perjalanan kami bersama MV Coral Geographer. Saya sudah sering mendengar tentang eksotisme Indonesia Timur. Apa yang kalian miliki di sini, yaitu tradisi pembuatan kapal Pinisi, adalah budaya luar biasa yang harus ditunjukkan kepada dunia,” ujar Rosalind saat diwawancarai di lokasi.
Keramahan Lokal dan Warisan Dunia
Rosalind juga memberikan apresiasi tinggi terhadap sambutan hangat masyarakat lokal. Baginya, perpaduan antara keramahan penduduk, keindahan alam, dan kemegahan kapal Pinisi menciptakan pengalaman yang tak terlupakan. Ia menegaskan bahwa destinasi ini sangat layak untuk dikunjungi oleh pelancong global.
“Saya merasa luar biasa mendapatkan sambutan yang begitu hangat. Pemandangan alamnya indah, dan melihat langsung proses pembuatan kapal Pinisi adalah pengalaman yang sangat berharga,” tambahnya.
Catatan Terkait Kebersihan Lingkungan
Meski terpukau dengan aspek budaya, Rosalind memberikan catatan kritis terkait pengelolaan kebersihan di area wisata. Ia menyoroti minimnya ketersediaan tempat sampah di sekitar lokasi yang dapat memengaruhi kenyamanan pengunjung. Ia menyarankan agar pemerintah atau pengelola setempat menyediakan petugas kebersihan khusus guna menjaga estetika kawasan.
Menanggapi hal itu, salah seorang warga Bontobahari, Syam Purnama menyampaikan kepada Rosalind bahwa tumpukan sampah atau potongan kayu yang ada di pesisir sering kali terbawa oleh arus gelombang laut.
“Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah bersama komunitas warga, pelajar, dan relawan rutin mengadakan program pembersihan pantai secara berkala,” ujarnya.
Mendengar penjelasan tersebut, Rosalind memberikan dukungan penuh, terutama terhadap keterlibatan generasi muda. “Itu sangat bagus, terutama melibatkan pelajar. Sangat vital untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan keberlanjutan lingkungan sejak usia dini,” pungkasnya.
Kunjungan kapal MV Coral Geographer ini diharapkan menjadi pemantik bagi peningkatan fasilitas infrastruktur dan manajemen kebersihan di Tanah Beru, agar destinasi kebanggaan Sulawesi Selatan ini semakin kompetitif di pasar pariwisata dunia.














