Berita

Sejarawan University of Utah Temukan Jejak Tambang Emas Kolonial di Silungkang, Sawahlunto Simpan Sejarah Selain Batubara

1674
×

Sejarawan University of Utah Temukan Jejak Tambang Emas Kolonial di Silungkang, Sawahlunto Simpan Sejarah Selain Batubara

Sebarkan artikel ini
Seorang akademisi dari Amerika Serikat menemukan fakta menarik tentang Kota Sawahlunto. Selain dikenal luas sebagai Kota Arang, Sawahlunto ternyata juga memiliki jejak panjang eksplorasi emas yang pernah menarik perhatian investor dan perusahaan pertambangan Eropa pada awal abad ke-20. (7/6/26).

SAWAHLUNTO, LENSANUSANTARA.CO.ID – Di tengah penelusurannya terhadap sejarah pertambangan kolonial di Sumatera Barat, seorang akademisi dari Amerika Serikat menemukan fakta menarik tentang Kota Sawahlunto. Selain dikenal luas sebagai Kota Arang, Sawahlunto ternyata juga memiliki jejak panjang eksplorasi emas yang pernah menarik perhatian investor dan perusahaan pertambangan Eropa pada awal abad ke-20.


Temuan tersebut diungkapkan oleh Wenrui Zhao, PhD, sejarawan sains dan kedokteran dari University of Utah, Amerika Serikat, saat melakukan kunjungan penelitian ke sejumlah situs bersejarah di Kota Sawahlunto dan Kecamatan Silungkang, Minggu (7/6/2026).

Example 300x600


Kunjungan Wenrui Zhao bersama rekannya, Meidi Hanum Sari, bermula dari penelitian yang sedang mereka lakukan di kawasan tambang emas kolonial Salido, Kabupaten Pesisir Selatan. Setelah memperoleh informasi mengenai keberadaan bekas tambang emas peninggalan kolonial di Silungkang, keduanya melanjutkan perjalanan ke Sawahlunto untuk menelusuri lebih jauh sejarah pertambangan di wilayah tersebut.


Penelusuran diawali di Lobang Tambang Batubara Soero, salah satu tambang bawah tanah peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang mulai beroperasi pada tahun 1898. Tambang tersebut merupakan bagian penting dari sistem pertambangan Ombilin yang memasok kebutuhan batubara untuk jalur kereta api dan Pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur) pada masa kolonial.

BACA JUGA :
Syofian Hendri Jemput Aspirasi Warga dalam Reses di Silungkang Oso


Operasional tambang bawah tanah itu dihentikan pada 1932 akibat tingginya rembesan air. Pemerintah Kota Sawahlunto kemudian merevitalisasi kawasan tersebut pada 2007 dan membukanya sebagai objek wisata sejarah pada 23 April 2008. Bersama kawasan pertambangan Ombilin lainnya, situs ini kemudian ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO pada 2019.


Dari kawasan tambang batubara, rombongan melanjutkan perjalanan ke lokasi bekas tambang emas tua di Silungkang. Berdasarkan sejumlah arsip kolonial Belanda, aktivitas penambangan emas di kawasan tersebut telah berlangsung secara tradisional sejak lama oleh masyarakat setempat.


Pada awal abad ke-20, perusahaan Belanda N.V. Mijnbouw-Maatschappij Siloengkang melakukan penyelidikan geologi terhadap endapan emas aluvial di wilayah itu sebelum memperoleh hak eksplorasi dan penambangan dari Pemerintah Hindia Belanda.

BACA JUGA :
Opsnal Lintah Bara Polres Sawahlunto Tangkap Sopir Pembawa Sabu di Dusun Simpang


Wenrui Zhao mengaku terkejut mengetahui bahwa Sawahlunto tidak hanya memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil batubara, tetapi juga menyimpan catatan eksplorasi emas yang cukup penting dalam sejarah pertambangan kolonial.


“Luar biasa. Perut bumi Sawahlunto ternyata menyimpan kekayaan yang sangat berharga, mulai dari batubara hingga emas,” ujar Wenrui Zhao saat berada di kawasan bekas tambang emas Silungkang.


Menurutnya, informasi mengenai sejarah tambang emas Silungkang menjadi temuan yang menarik dalam penelusuran akademiknya karena selama ini Sawahlunto lebih dikenal sebagai kota tambang batubara.


Setelah menelusuri kawasan pertambangan, rombongan melanjutkan kunjungan ke sentra kerajinan Songket Silungkang di Dusun Stasiun, Kecamatan Silungkang. Kunjungan tersebut didampingi oleh awak media, Kepala Dusun Stasiun Ferinov, serta tokoh pemuda setempat, Suherman.


Di lokasi tersebut, Wenrui Zhao menyaksikan secara langsung proses pembuatan Songket Silungkang yang masih mempertahankan teknik tradisional. Ia melihat tahapan pembuatan mulai dari manuriang atau penggulungan benang hingga proses penenunan menggunakan alat tenun bukan mesin yang menghasilkan motif khas Minangkabau.

BACA JUGA :
Wali Kota Sawahlunto Dampingi Wagub Sumbar Tinjau Rumah Warga Penerima Program Bedah Rumah saat Safari Ramadan


Menurut Wenrui Zhao, keberadaan warisan pertambangan dan tradisi tenun yang tetap bertahan hingga kini menunjukkan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Silungkang dalam satu kawasan yang sama.


Sebelum mengakhiri kunjungannya, akademisi asal Amerika Serikat tersebut membeli satu set kain Songket Silungkang sebagai cendera mata untuk dibawa pulang.


Penelusuran sejarah yang dilakukan Wenrui Zhao bersama rombongan menjadi bagian dari upaya pengumpulan data mengenai sejarah pertambangan kolonial di Sumatera Barat. Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan potensi sejarah, budaya, dan warisan industri yang dimiliki Sawahlunto dan Silungkang kepada kalangan akademisi internasional.


Kunjungan ini diharapkan dapat membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai sejarah pertambangan emas di Silungkang yang selama ini belum banyak terekspos, sekaligus memperkuat posisi Sawahlunto sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sejarah pertambangan dan budaya yang unik di tingkat dunia.(Suherman)