Kesehatan

Usai Temuan Ulat pada Menu MBG di Bondowoso, Dokter Spesialis Anak Ungkap Titik Kritis yang Harus Dievaluasi

16792
×

Usai Temuan Ulat pada Menu MBG di Bondowoso, Dokter Spesialis Anak Ungkap Titik Kritis yang Harus Dievaluasi

Sebarkan artikel ini
dr. Rhefki, Sp.A, M.Biomed
dr. Rhefki, Sp.A, M.Biomed

Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kasus ditemukannya ulat pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Kabupaten Bondowoso terus menjadi perhatian berbagai pihak. Setelah sebelumnya Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso menyatakan masih menunggu arahan dan keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat untuk menindak lanjuti SPPG Jambeanom.

Sehingga, muncul perhatian dari kalangan medis yang menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan makanan.

Example 300x600

Dokter Spesialis Anak, dr. Rhefki, Sp.A, menjelaskan bahwa persoalan keamanan pangan tidak hanya dinilai dari kelayakan bangunan dapur atau fasilitas produksi, tetapi juga harus mencakup seluruh tahapan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

Menurutnya, apabila ditemukan ulat pada menu makanan, maka evaluasi yang perlu dilakukan bukan hanya terhadap tempat pengolahan, melainkan juga sistem dan proses produksi yang diterapkan.

BACA JUGA :
Maraknya Rokok Tanpa Cukai, Satpol PP Bondowoso Gelar Operasi Gabungan

“Kalau memang ditemukan ulat di menu, yang dievaluasi bukan hanya tempatnya, tetapi juga prosesnya. Bagaimana pemilihan bahannya, bagaimana proses produksinya, hingga bagaimana quality control dilakukan,” ujar dr. Rhefki.

Ia menambahkan, bahan pangan seperti sayuran memang berpotensi mengandung ulat apabila proses pencucian dan sortasi tidak dilakukan secara optimal sebelum dimasak.

Meski demikian, dr. Rhefki menjelaskan bahwa secara medis, tertelannya satu atau dua ulat kecil maupun telur ulat yang berasal dari sayur atau buah umumnya tidak membahayakan kesehatan.

“Kalau hanya satu atau dua ekor berukuran kecil, secara umum tidak berbahaya, Namun, yang menjadi perhatian adalah bagaimana proses pengendalian mutunya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” jelasnya.

dr. Rhefki menambahkan jika ditemukan kejadian ulat tertelan atau termakan oleh anak, walau hanya satu atau dua ekor ulat sebaiknya di periksa ke fasilitas kesehatan terdekat.

BACA JUGA :
Viral…!! Jalan Penghubung Botolinggo dan Kebun Pancur Bondowoso yang Instagramable

“Jika tertelan atau termakan, lebih aman jika diperiksakan ke faskes terdekat untuk ditelusuri dan dipastikan diperlukannya observasi dan atau penanganan lebih lanjut secara medis”. Tegasnya.

Sorotan terhadap keamanan pangan dalam Program MBG sebenarnya telah disampaikan sejak akhir 2025 oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui surat terbuka yang diterbitkan saat maraknya kasus keracunan MBG di berbagai daerah.

“Dalam surat tersebut, IDAI menekankan pentingnya penerapan keamanan pangan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat”. Jelasnya.

Selain itu, keberadaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) disebut sebagai salah satu indikator bahwa tempat pengolahan dan penyajian makanan telah memenuhi persyaratan kesehatan.

“Namun, sertifikat tersebut dinilai harus dibarengi dengan penerapan standar operasional yang konsisten dalam setiap tahapan produksi”. Tambahnya.

BACA JUGA :
Aksi Walk Out Anggota DPRD Bondowoso Mewarnai Kedatangan Bupati Salwa di Rapat Paripurna

Sebelumnya diberitakan, seorang guru menemukan ulat pada menu sayur MBG yang disajikan di wilayah SPPG Jambeanom, Bondowoso.

Temuan tersebut kemudian disampaikan melalui grup koordinasi sekolah dan mendapat respons dari pihak SPPG yang menyampaikan permohonan maaf serta berjanji meningkatkan ketelitian dalam proses penyediaan makanan.

Koordinator SPPG Kabupaten Bondowoso juga menyatakan telah melaporkan kejadian tersebut kepada Badan Gizi Nasional dan masih menunggu hasil evaluasi maupun keputusan dari pemerintah pusat terkait tindak lanjut atas insiden tersebut.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari cakupan penerima manfaat, tetapi juga dari konsistensi penerapan standar keamanan pangan, sehingga kualitas makanan yang disajikan tetap terjaga dan kepercayaan masyarakat terhadap program nasional tersebut dapat dipertahankan.” Pungkas dr. Refkhi.