Banjarnegara, LENSANUSANTARA.CO.ID – Berbeda dengan tahun lalu, peringatan ruwat bumi di Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara lebih meriah karena dikemas bersama Kirab Budaya lokal. Sebanyak 15 gunungan yang berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan hingga umbi-umbian diarak sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala kenikmatan kepada masyarakatnya salama ini.
Acara ruwat dan kirab budaya lokal yang dilaksanakan Pemerintah Desa bersama dengan masyarakatnya ke 2 tersebut, selain untuk menyambut datangnya bulan Muharram atau (Suro), juga sebagai bentuk untuk menghidupkan kembali (nguri-nguri) budaya yang ada di Masaran yang selama lebih dari 8 tahun kegiatan tersebut vakum.
Acara yang juga dihadiri Anggota DPRD Propinsi dari fraksi PPP Gus Jafar, Anggota Dewan Daerah Banjarnegara Ismawan (Fraksi PDIP), Edi Purwanto (Fraksi PPP), Ketua Dewan Kesenian Ban Banjarnegara Ismawan, Perwakilan Aliansi Wargo Hutomo, serta ribuan masyarakat Desa Masaran tersebut juga mengenalkan makanan khas lemek dengan bahan baku ketela dicampur dengan gula merah.
Kirab budaya yang dimulai sekitar pukul 09.00 Wib, perayaan tahun ini antusiasme masyarakat begitu besar, sebanyak 15 Rukun Tetangga (RT) ikut ambil bagian dengan menampilkan kreativitas dan pakaian adat yang beragam selama jalannya kirab.
“Rangkaian festival sejatinya telah dimulai sejak Jumat (20/6/2026) kemarin, Perangkat desa dan tokoh masyarakat mengawalinya dengan ziarah ke makam para leluhur, seperti makam Ki Arsantaka dan Mbah Wanakusuma, beliau dua sosok punggawa besar masa lalu yang memiliki keterkaitan sejarah kuat hingga ke wilayah Purbalingga,” ungkap Kades Dian, Minggu, (21/6/2026).
Menariknya, dalam kirab ini, pihak panitia selain menyajikan kuliner tradisonal sebanyak 1500 kue lemek, juga adanya 100 penari lokal anak-anak turut memukau penonton lewat tarian massal Dawet Ayu Banjarnegara.
“Awalnya saya khawatir karena dianggap membebani warga secara finansial, karena mengingat biaya untuk membuat gunungan, memasak ribuan lemek, hingga menyewa kostum kirab tidaklah sedikit, tapi ternyata antusiasme warga luar biasa, mereka tidak mempedulikan berapa pun biaya fantastis yang harus dikeluarkan, yang penting mereka bisa ikut meramaikan pesta rakyat ini,” ujar Dian
Kemajuan pesat kebudayaan di Desa Masaran, juga mendapatkan apresiasi tinggi dari Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Banjarnegara, Ismawan Setya Handoko, menurutnya, Masaran telah saat ini menjadi contoh sukses bagaimana sebuah desa mampu menjaga dan mempertahankan akar budaya tradisional di tengah zaman modern.
“Dari tahun ke tahun, antusiasme masyarakat kian membesar, Ekspektasi kita ke depan, event seperti ini skalanya bisa diperbesar, tidak hanya dinikmati warga lokal, tapi bisa menarik wisatawan se-Jawa Tengah hingga tingkat nasional,” kata Ismawan.
Apresiasi juga dilontarkan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Ja’far Sodiq (Gus Ja’far), kepada wartawan dirinya memberikan pujian yang sangat besar kepada Pemdes Masaran yang tetap mampu menggelar acara semegah ini di tengah program efisiensi anggaran.
Gus Ja’far juga membawa kabar baik bagi masa depan kebudayaan Desa Masaran, dirinya membocorkan bahwa arah kebijakan pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mengalami pergeseran tematik.
“Jika tahun 2026 ini provinsi fokus pada pembangunan infrastruktur, maka di tahun 2027 nanti fokus utamanya beralih ke sektor kebudayaan dan pariwisata, mayoritas anggaran akan dialokasikan ke sana,” jelas Gus Ja’far.
Masih kata Gus Ja’far,” kepada Kepala Desa Masaran untuk segera mengajukan proposal bantuan aspirasi (Pokir) kelompok seni dan pariwisata untuk tahun anggaran 2027 mendatang, sehingga jika mendapatkan anggaran diharapkan dapat menjadi bahan bakar baru bagi Desa Masaran untuk terus menguri-uri atau melestarikan tradisi leluhur,” jelasnya memberi lampu hijau kepada Kades.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara Tursiman mengatakan, Festival Budaya Lokal dan Ruwat Bumi di Desa Masaran bukan sekadar pesta rakyat, melainkan sebuah manifestasi nyata dari ketahanan budaya lokal di era modern.
“Kami dari dinas sangat mengapresiasi swadaya dan semangat gotong royong warga Desa Masaran. Kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih hidup kuat di tengah masyarakat. Ruwat Bumi dan Kirab Gunungan ini tidak hanya berfungsi sebagai pelestari tradisi leluhur, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang dapat menggerakkan roda ekonomi kreatif berbasis kemasyarakatan,” ujarnya.
Tursiman menambahkan, bahwa pihak dinas akan terus mendukung dan berkomitmen untuk mengintegrasikan kegiatan budaya berbasis desa seperti di Masaran ini ke dalam kalender wisata resmi daerah.
“Harapannya, sinergi antara tradisi, masyarakat, dan pemerintah ini bisa terus terjaga agar kekayaan non-benda kita tetap lestari hingga generasi mendatang,” kata Tursiman.
Usai kegiatan ruwat dan kirab budaya lokal Desa Masaran, mulai pada pukul 13.00 Wib, masyarakat di manjakan dengan tontonan wayang kulit semalam suntuk di lapangan setempat bersama dalam kondang asal Kebumen Eko Suwaryo dengan mengambil lakon ‘Srikandi dadi ratu’. (Gunawan).














