Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Kepala DP3AKB Jember mengungkapkan jika perbedaan data merujuk pada SSGI (Studi Status Gizi) dari Kementerian Kesehatan angka stunting di Jember mencapai 34,9 persen. Namun DP3AKB Jember mencatat angka stunting di sebanyak 7,37 persen. Sehingga perlu adanya singkronisasi data percepatan penurunan angka stunting, Kamis (2/2/2023).
Menurut Kepala DP3AKB Kabupaten Jember, Suprihandoko mengatakan, DP3AKB Jember sendiri tidak mempunyai data stunting yang kita punya resiko data stunting, karena tugas DP3AKB cegah stunting dari hulu.
“Ketika terjadi kasus stunting maka pendataan bahkan pengukuran masuk klafikasi intervensi spesifik tentunya pada ahlinya Dinas Kesehatan,” menurutnya.
Ketika di timbang tidak sesuai dengan umurnya di beri nutrisi atau vitamin, DP3AKB tidak tahu yang mengetahui data stunting itu yang memiliki Dinas Kesehatan.
Suprihandoko menyebutkan, “Agar di timbang dan di ukur secara betul – betul tidak terjadi perbedaan, sementara alat ukur ada di posyandu karena sasaran survei SSGI yang memunculkan angka 34,9 persen angka Stunting di Kabupaten Jember Dinas Kesehatan yang tau,” ungkapnya.
Menurutnya, E-PPGBM bersumber penimbangan yang dilakukan dari posyandu di Jember, sedangkan SSGI dilakukan oleh tim survei dari Kementerian Kesehatan.
“Kemudian 34,9 SSGI ayok kita buktikan bareng – bareng pengukuran harus di lakukan oleh ahlinya. Kalau kita melihat sumber data E-PPGBM yang jelas itu turun sampai 7, 3 persen sedangkan angka dari SSGI itu naik 34,9 persen karena sumber datanya berbeda,” bebernya.
Kemarin bapak Bupati bergegas memimpin rapat koordinasi jajaran OPD di dampingi para tim ahli Kabupaten Jember, merancang singkronisasi data percepatan penurunan angka stunting.
Meski demikian Suprihandoko mengungkapkan, “Kita mengharapkan kabupaten Jember zero stunting, tidak ada lahir stunting baru lagi,” pungkasnya (Dri)














