Bondowoso, LENSANUSANTARA.CO.ID – Tangis dua bayi kembar prematur di sebuah rumah sederhana di Dusun Kobiung, Desa Pakisan, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, menjadi potret pilu yang menggugah nurani. Di usia yang bahkan belum genap satu bulan, Ananda Dea dan Ananda Deo harus menjalani hidup tanpa belaian sang ibu yang meninggal dunia akibat komplikasi pascamelahirkan.
Kedua bayi lahir melalui operasi sesar dengan berat badan hanya 1,2 kilogram dan 1,4 kilogram. Setelah sempat pulang dari rumah sakit, kondisi sang ibu, Qinanah, memburuk hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Sejak saat itu, Dea dan Deo diasuh oleh keluarga yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi, sementara sang ayah masih menjalani pemulihan karena kondisi kesehatannya menurun akibat duka yang mendalam.
Kisah memilukan tersebut akhirnya mengetuk hati banyak pihak. Salah satunya datang dari SakeraBondowoso yang menyambangi kediaman keluarga untuk menyerahkan santunan dan bantuan kebutuhan bayi.
Kehadiran mereka bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga memberikan semangat kepada keluarga agar tetap kuat menghadapi cobaan berat tersebut. Bantuan berupa kebutuhan bayi dan santunan diharapkan dapat meringankan beban keluarga, meski tidak akan pernah mampu menggantikan kasih sayang seorang ibu.
Samsul Arifin Ketua Sakera Bondowoso menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan itu lahir dari kepedulian terhadap sesama.
“Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban keluarga. Yang lebih penting, semoga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk ikut membantu. Dea dan Deo masih memiliki perjalanan hidup yang panjang dan mereka membutuhkan perhatian kita bersama,” ujarnya.
Kondisi kedua bayi masih membutuhkan asupan susu formula, perlengkapan bayi, serta pendampingan agar tumbuh sehat. Di tengah keterbatasan keluarga, setiap bentuk kepedulian menjadi harapan baru bagi masa depan mereka.
Selain itu, Sakera Bondowoso siapkan kendaraan khusus untuk alat transportasi untuk keperluan kontrol mengingat kedua bayi tersebut masih membutuhkan penanganan medis.
“Bismillah, kita siapkan kendaraan apabila dibutuhkan untuk kontrol bayi ke rumah sakit, kendaran dan sopir kita siapakan ketika sewaktu waktu dibutuhkan”. Tambah Samsul.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Uluran tangan sekecil apa pun dapat menjadi penyambung harapan bagi dua bayi yang bahkan belum sempat merasakan hangatnya pelukan sang ibu.
Di balik dinginnya lereng Gunung Sanggar, Dea dan Deo kini menanti kasih sayang dari banyak hati. Bukan hanya untuk bertahan hidup hari ini, tetapi juga untuk menatap masa depan yang lebih baik.
Semoga semakin banyak dermawan, komunitas, dunia usaha, maupun pemerintah yang hadir memberikan perhatian, agar kedua bayi yatim tersebut dapat tumbuh sehat, kuat, dan kelak menggapai cita-citanya.














