Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Tim Humas PKRS RSD Balung bersama mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Jember melaksanakan penyuluhan tentang wabah penyakit MPOX. Penyuluhan dilaksanakan di ruang tunggu instalasi rawat jalan.
Belakangan ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengeluarkan peringatan terkait memburuknya penyebaran wabah Mpox di Kawasan Afrika khususnya Republik Demokratik Kongo, Senin (9/9/2024).
Humas RSD Balung Rangga A Ekananta,
Lonjakan kasus wabah Mpox secara masif ini merupakan yang kedua kalinya dalam 2 tahun terakhir sehingga mendorong WHO pada tanggal 15 Agustus 2024 yang lalu, mengumumkan bahwa wabah Mpox ini sebagai keadaan darurat medis secara global.
“Pengumuman kondisi darurat dipercepat setelah pejabat kesehatan Swedia mengkonfirmasi terdeteksinya sebuah kasus Mpox varian baru ini sebagai infeksi pertama yang terdeteksi di luar Afrika,” Ujarnya.
Wabah Mpox yang sebelumnya dikenal dengan monkeypox, adalah penyakit yang disebabkan oleh monkeypox virus (MPXV). Virus ini merupakan virus berjenis DNA untai ganda berselubung dari genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Ada 2 clade virus yang berbeda yaitu clade I (dengan sub-clade Ia dan Ib) dan clade II (dengan sub-clade IIa dan IIb). Clade I ini dianggap lebih parah dan lebih cepat menular dibandingkan dengan MPXV Clade II.
“Wabah global Mpox pada tahun 2022 disebabkan oleh sub-clade IIb di Afrika termasuk di beberapa negara Eropa dan Asia. Sedangkan pada tahun 2024 terjadi peningkatan wabah Mpox yang disebabkan oleh sub-clade Ia dan Ib di Republik Demokratik Kongo dan di negara-negara lain di Afrika. Pada Agustus 2024, sub-clade Ib juga telah terdeteksi di luar negara Afrika, termasuk di Swedia, Filipina dan Thailand.
Mpox dapat menyebabkan berbagai tanda dan gejala. Sementara beberapa orang memiliki gejala ringan, yang lain mungkin mengalami gejala yang lebih berat dan memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan. Mereka yang berisiko lebih tinggi untuk penyakit yang lebih parah atau komplikasi termasuk orang-orang yang sedang hamil, anak-anak dan orang-orang dengan penyakit kekebalan tubuh,” Terangnya.
Gejala mpox biasanya demam, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit punggung, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening (di leher, ketiak atau selangkangan) dan ruam atau lesi kulit. Ruam biasanya dimulai dalam satu sampai tiga hari sejak demam. Ruam atau lesi pada kulit ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar, lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok. Jumlah lesi pada satu orang dapat berkisar dari beberapa saja hingga ribuan. Ruam cenderung terkonsentrasi pada wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Ruam juga dapat ditemukan di mulut, alat kelamin, dan mata. Ruam mpox terkadang disalahartikan sebagai sifilis atau herpes.
“Gejala biasanya berlangsung antara 2-4 minggu dan biasanya sembuh sendiri. Namun pada beberapa individu, dapat menyebabkan komplikasi medis dan kematian. Orang dengan penyakit penurunan kekebalan tubuh kemungkinan berisiko mengalami gejala yang lebih serius. Pengobatan bersifat menghilangkan gejala dan suportif.
Siapa pun yang memiliki gejala mpox atau yang telah melakukan kontak dengan seseorang yang terinfeksi mpox harus menghubungi atau mengunjungi fasilitas layanan kesehatan dan meminta saran tenaga kesehatan,” ungkapnya.
Beberapa cara agar kita terhindar dari MPOX antara lain :
- Cuci tangan pakai sabun secara teratur atau gunakan hand sanitizer
- gunakan masker dan terapkan etika batuk
- Hindari kontak kulit ke kulit atau berhadapan wajah terlalu dekat, termasuk kontak seksual dengan siapa saja yang memiliki gejala
- bersihkan area atau benda dan permukaan yang sering disentuh.
“Bila anda mengalami gejala monkeypox, segera mengisolasi diri di rumah dan mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” Tuturnya (Dri)














