Sidoarjo, LENSANUSANTARA.CO.ID – Penanganan kesehatan terhadap para santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, masih menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Hingga Rabu, 2 September 2026, sebanyak 566 santri tercatat mengalami keluhan kesehatan dan telah masuk dalam pendataan serta penanganan fasilitas kesehatan.
Dari jumlah tersebut, 88 santri masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit, sementara santri lainnya telah diperbolehkan kembali setelah kondisi mereka dinilai membaik.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyatakan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi para santri sekaligus memperbarui data untuk memastikan seluruh pasien yang membutuhkan pertolongan mendapatkan pelayanan medis.
Bupati Sidoarjo H. Subandi mengatakan penanganan menjadi prioritas pemerintah daerah. Koordinasi dilakukan bersama tenaga kesehatan, TNI dan Polri untuk memastikan proses evakuasi maupun pelayanan medis berjalan dengan baik.
«“Yang paling utama saat ini adalah memastikan seluruh santri mendapatkan pemeriksaan dan perawatan yang sesuai. Kami terus memantau perkembangan mereka dan meminta jajaran terkait bergerak cepat apabila ada yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” kata Subandi.»
35 Santri Kembali Dievakuasi
Data terbaru menunjukkan adanya penambahan jumlah santri yang mengalami keluhan kesehatan.
Sebelumnya, tercatat 531 santri telah mendapatkan penanganan. Pada Rabu, sebanyak 35 santri kembali dievakuasi ke fasilitas kesehatan, sehingga jumlah keseluruhan dalam pendataan mencapai 566 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan kondisi mayoritas pasien yang masih menjalani perawatan relatif terkendali.
«“Dari hasil pemantauan sementara, kondisi pasien cenderung stabil. Kami tetap melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan tidak ada perkembangan yang memerlukan tindakan khusus,” jelas Lakhsmie.»
Menurut Lakhsmie, pemerintah daerah juga telah menyiapkan rumah sakit penunjang apabila terdapat pasien yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Fasilitas untuk pemeriksaan MRI turut dipersiapkan sebagai langkah antisipasi apabila dokter menemukan pasien yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Evakuasi Dilakukan Bertahap
Pemindahan santri dari lingkungan pondok pesantren ke fasilitas kesehatan dilakukan secara bertahap.
Santri yang masih berada di lingkungan pondok, termasuk yang berada di area masjid, akan dievakuasi dengan mempertimbangkan kapasitas rumah sakit yang tersedia.
«“Evakuasi tetap kami lakukan secara bertahap. Kami menyesuaikan kapasitas masing-masing rumah sakit agar proses pemeriksaan dan pelayanan kepada pasien tetap berjalan dengan baik,” ujar Lakhsmie.»
Dari total 566 santri yang telah masuk pendataan, sebanyak 88 orang masih berstatus rawat inap. Berdasarkan pemantauan sementara, kondisi pasien disebut relatif stabil dan belum ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan khusus.
Keluhan yang banyak dilaporkan antara lain mual dan muntah. Namun, pemerintah masih melakukan pemantauan dan evaluasi medis untuk mengetahui perkembangan kondisi para santri.
Pemerintah Koordinasikan Pembiayaan Perawatan
Selain penanganan medis, Pemkab Sidoarjo juga melakukan koordinasi terkait pembiayaan perawatan para santri.
Koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Timur, untuk memastikan kebutuhan penanganan kesehatan para santri dapat terpenuhi secara optimal.
Pemerintah daerah memastikan pemantauan terhadap para santri akan terus dilakukan hingga seluruh pasien mendapatkan penanganan dan kondisi kesehatan mereka dinyatakan membaik.
Sementara itu, terkait penyebab munculnya keluhan kesehatan secara massal, diperlukan pemeriksaan dan evaluasi lebih lanjut oleh pihak berwenang. Karena itu, informasi mengenai penyebab kejadian perlu menunggu hasil pemeriksaan resmi dan tidak langsung menyimpulkan sumber penyebab sebelum terdapat kepastian dari pihak terkait.














