Jember, LENSANUSANTARA.CO.ID – Petani di Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, harus menghadapi persoalan air yang tak kunjung mengalir hingga ke ujung sawah. Saluran irigasi yang bocor dan di penuhi endapan membuat petani hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun, hingga akhirnya Pemerintah Kabupaten Jember membangun irigasi melalui program Optimasi Lahan (Oplah).
Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan peningkatan produktivitas pertanian harus dimulai dari penyediaan infrastruktur yang memadai. Mulai dari pembangunan irigasi merupakan langkah nyata untuk meningkatkan hasil panen petani.
“Kalau kita ingin meningkatkan produktivitas padi, jagung dan lainnya, salah satunya adalah ketersediaan infrastruktur. Ini bukan konsep, ini bukan omong-omong, apalagi rencana, tetapi sudah dilaksanakan,” tegas Gus Fawait Senin (13/7/2026).
Gus Fawait menyatakan, pada 2026 Kabupaten Jember memperoleh program Optimasi Lahan seluas 7.070 hektare yang tersebar di 240 titik. Salah satunya berada di Kecamatan Jenggawah dengan cakupan lahan sekitar 20 hektare.
“Di sini ada 20 hektare yang masuk program Oplah. Tahun ini Jember mendapatkan 240 titik pembangunan,” sebutnya.
Lanjut dia menjelaskan sumber air di kawasan tersebut sebenarnya mencukupi karena berasal dari Dam Talang. Namun, saluran irigasi yang bocor membuat air tidak pernah sampai ke seluruh areal persawahan sehingga petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun.
“Masalahnya bukan airnya tidak ada, tetapi salurannya bocor sehingga air tidak sampai ke ujung sawah. Karena itu petani hanya bisa tanam sekali,” jelasnya.
Pembangunan irigasi akan mampu meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua, bahkan tiga kali tanam dalam setahun. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
“Harapannya dari satu kali tanam bisa menjadi dua bahkan tiga kali sehingga panen lebih banyak dan petani semakin sejahtera,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember Moh. Djamil menjelaskan pembangunan saluran irigasi memiliki panjang sekitar 260 meter dengan lebar tiga meter. Proyek tersebut di targetkan rampung dalam waktu maksimal tiga bulan.
“Panjang saluran sekitar 260 meter dengan lebar tiga meter dan target pengerjaan maksimal tiga bulan,” bebernya.
Selain meningkatkan indeks pertanaman, Pemkab Jember juga menargetkan produktivitas padi meningkat dari rata-rata 5,2 ton per hektare menjadi sedikitnya 5,7 ton per hektare.
“Perbaikan infrastruktur irigasi ia yakini menjadi salah satu kunci untuk mencapai target tersebut, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Jember. “Target produktivitas kita naik minimal menjadi 5,7 ton per hektare sehingga luas tanam dan luas panen ikut meningkat,” paparnya.
Disisi lain warga sekitar Solihin mengatakan Kalau salurannya bersih dari hulu sampai hilir, air meski kecil tetap lebih cepat sampai ke area sawah.
Lebih lanjut, selama ini persoalan terbesar yang di hadapi petani bukan hanya minimnya debit air, tetapi kondisi saluran yang rusak dan kotor. Air yang mengalir dari hulu kerap tersendat bahkan bocor sebelum mencapai lahan pertanian di bagian hilir.
“Dulu air sering tersendat karena bocor-bocor. Sekarang sudah mau musim kemarau, kalau salurannya kotor air makin susah sampai,” katanya.
Menurutnya, lahan persawahan di wilayah tersebut masih sangat luas sehingga membutuhkan distribusi air yang lancar. Kehadiran saluran irigasi baru dinilai menjadi harapan agar kebutuhan air petani dapat terpenuhi lebih cepat.
“Kalau ada tambahan bangunan irigasi seperti ini, aliran air lebih bagus dan kebutuhan petani lebih cepat terpenuhi,” ungkap petani jagung tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan pembangunan fisik saja tidak cukup apabila tidak di ikuti dengan pemeliharaan saluran. Saluran yang dipenuhi sampah dan endapan tetap akan menghambat aliran air menuju sawah.
“Yang penting salurannya tetap bersih. Kalau habis dibangun tapi tidak dibersihkan, air tetap lambat karena terhambat kotoran,” tandasnya.














